Greenwashing: Usaha Memikat Pelanggan dengan Strategi Ramah Lingkungan

Masalah lingkungan hidup telah menjadi isu utama yang penting bagi dunia sejak puluhan tahun lalu. Mayoritas bisnis berupaya mengembangkan produk dan jasa yang ramah lingkungan sebagai upaya konkret menjaga kelestarian lingkungan. Namun, hal tersebut juga dimanfaatkan oleh sebagian oknum pebisnis untuk melancarkan strategi yang disebut greenwashing.

Hingga saat ini, greenwashing masih menjadi strategi andalan para pebisnis untuk memikat banyak pelanggan. Padahal, upaya tersebut bersifat semu hanya demi meningkatkan omzet bisnis.

Apa yang Dimaksud dengan Greenwashing?

Istilah greenwashing pertama kali diperkenalkan oleh seorang ahli lingkungan bernama Jay Westerveld pada tahun 1986. Secara sederhana, greenwashing dapat diartikan sebagai tindakan membuat klaim tanpa dasar yang jelas tentang produk bisnis sehingga produk tersebut dianggap lebih ramah lingkungan dan jauh lebih unggul daripada kompetitornya.

Bisnis yang menggunakan strategi ini biasanya mengklaim bahwa produknya terbuat dari bahan ramah lingkungan atau melewati proses yang lebih hemat energi.

Baca Juga: Foreign Branding: Strategi Bisnis Lokal agar Laris dan Makin Bergengsi

Perbedaan Greenwashing dan Green Marketing

Hingga saat ini, masih banyak orang yang kurang memahami perbedaan antara greenwashing dan green marketing. Dalam strategi green marketing, suatu bisnis benar-benar berusaha agar produknya menjadi lebih ramah lingkungan dan hemat energi.

Sebaliknya, upaya greenwashing hanya terbatas pada kampanye semata. Bahkan, bujet untuk kampanye tentang produk ramah lingkungan kerap jauh lebih besar dibandingkan bujet riset untuk menghasilkan produk tersebut

Ciri-Ciri Bisnis yang Tidak Menerapkan Prinsip Ramah Lingkungan

Beberapa hal berikut ini mengindikasikan bahwa suatu bisnis sedang menerapkan strategi greenwashing:

  • Perusahaan tidak berani transparan tentang penggunaan bahan baku dan proses produksi yang dilakukan.
  • Klaim yang dilakukan terlalu berlebihan sehingga terkesan tidak nyata, misalnya 100% ramah lingkungan, tidak menghasilkan limbah sama sekali, atau hemat energi hingga >50%.
  • Kepedulian terhadap lingkungan hanya dilakukan berdasarkan permintaan pelanggan. Nyatanya, perusahaan tidak pernah berinisiatif untuk berkontribusi bagi kelestarian lingkungan.
  • Enggan berinvestasi untuk mewujudkan upaya konkret ramah lingkungan, misalnya menghadirkan stasiun pengisian ulang (refill) produk di lokasi strategis sehingga sampah plastik dari kemasan akan berkurang drastis.

Kepedulian terhadap lingkungan memang bisa menjadi salah satu strategi yang tepat dan menguntungkan bagi kelangsungan bisnis. Namun, strategi tersebut harus diimbangi dengan langkah-langkah konkret yang inovatif. Inilah yang membuat pemerintah wajib menerapkan regulasi yang tepat untuk mewujudkan proses bisnis yang ramah lingkungan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here