Kontroversi Pengalaman Kerja Bulanan di CV, Haruskah Dicantumkan?

Peter Febian

Spotlight

Cukup banyak pencari kerja yang gelisah, jika mereka hanya berhasil mempertahankan pekerjaannya selama kurang dari enam bulan di suatu perusahaan.

Umumnya, kekuatiran mereka adalah karena CV yang terlihat tidak elok akibat “rusak” oleh pengalaman kerja bulanan yang tampak “menodai” pengalaman kerja tahunan dalam postur karier yang selama ini mereka bangun.

Sudah banyak pengalaman tidak mengenakkan yang dialami para pencari kerja, di mana Rekruter konservatif menghakimi dan mempertanyakan pengalaman kerja kandidat yang sebentar-sebentar, alias “kutu loncat”.

Fakta dan masalahnya… di antara para Rekruter, tidak pernah ada kesepakatan tentang apa definisi “kutu loncat” tersebut.

Ada Rekruter ekstrim-konservatif yang berpikir bahwa seorang pekerja baru dapat dikatakan loyal ketika sanggup bekerja di satu perusahaan minimal 10 tahun. Di sisi ekstrim lainnya, sejumlah Rekruter modern tidak mempermasalahkan masa kerja bulanan yang dialami seorang pekerja.

Umumnya, Rekruter modern memahami bahwa ada banyak faktor eksternal di luar kekuasaan sang pekerja yang menjadikan masa kerja mereka dalam satu perusahaan tidak sesolid era sebelum internet dan teknologi digital hadir sebagai disruptor dalam banyak bidang industri.

Sehingga… jika di kalangan Rekruter sendiri masih ada kegalauan semacam ini, lalu mengapa pencari kerja harus ikutan galau bersama Rekruter?

Di era serba tak menentu ini, dunia karier semakin tidak bisa diprediksi. Bahkan pekerja-pekerja paling jujur dan cemerlang sekalipun masih sangat mungkin terkena imbas Office Politics yang semakin tajam dan kejam. Mulusnya perjalanan karier tinggallah impian semata.

Ini belum lagi menilik kenyataan di dunia Outsourcing, di mana kerja dalam hitungan bulan itu sudah biasa terjadi.

Ini belum lagi menilik kenyataan bahwa kalangan milenial tidak segan mengundurkan diri saat itu juga ketika kultur perusahaannya sudah tidak terasa nyaman bagi mereka. Bodo amat soal masa kerja bulanan atau tahunan.

Sehingga terjadilah kegalauan umum: misalnya jika pengalaman kerja kita dua atau tiga bulan saja, apakah itu perlu dicantumkan di CV atau tidak?

Masalahnya adalah: apakah dicantumkan atau tidak dicantumkan, kedua opsi itu masing-masing memiliki konsekuensinya. Tidak ada opsi yang murni aman.

Jika kita mencantumkan masa kerja bulanan, lalu bertemu dengan Rekruter konservatif, sudah pasti kita tidak akan lolos. Karena bagi mereka, bahkan masa kerja tiga tahun di satu perusahaan pun tetap tampak kurang loyal.

Baca Juga: Mau Lolos Proses Rekrutmen? Jujur saat Rekrutmen Itu Rasional

Tidak perlu galau demi memuaskan Rekruter konservatif semacam itu, karena hanya buang waktu saja.

Namun jika kita tidak mencantumkan masa kerja bulanan, maka jeda karier kita pun akan menimbulkan pertanyaan dari Rekruter: “Selama tidak bekerja ini, apa kegiatan Anda?”

Inilah yang harus kembali lagi pada keahlian dan koneksi pertemanan di luar pekerjaan kita. Jika di masa jeda karier itu ada banyak kegiatan produktif yang kita lakukan, maka tidak perlu kuatir untuk menjelaskannya pada Rekruter.

Misalnya: mengisi pelatihan, menjadi guru, mengambil beberapa pekerjaan paruh-waktu (freelance), membantu bisnis kawan, melakukan kegiatan kemanusiaan, aktif di organisasi besar, dan masih banyak pilihan kegiatan lainnya.

Jika kita memiliki keahlian dan kegiatan lain di luar pekerjaan kita (pekerja dinamis), maka kita tidak perlu kuatir soal pencantuman masa kerja bulanan ini. Karena kalau pun tidak kita cantumkan, kita dapat menjelaskan kegiatan di luar pekerjaan itu kepada Rekruter, dan itu akan tetap tampak wajar.

Namun jika kegiatan dan keahlian kita selama ini hanya yang ada hubungannya dengan pekerjaan kantor saja (pekerja statis), lalu jika terjadi sesuatu dengan karier kita, maka kita pun tampak seperti orang yang tidak melakukan apa-apa selama jeda karier tersebut. Pada kondisi ini, wajar saja timbul kegalauan.

Baca Juga: Jarang Diketahui, Apa Perbedaan antara CV dan Resume?

Tidak dicantumkannya masa kerja bulanan pada CV para pekerja statis, sangat berpotensi menimbulkan pertanyaan dan kecurigaan dari Rekruter, karena pekerja statis hanya mengerjakan pekerjaannya saja, tanpa kehidupan lain di luar pekerjaannya.

Maka jadilah pekerja dinamis dengan keahlian beragam dan jaringan pergaulan yang luas dan heterogen.

Dengan demikian, apa pun yang terjadi pada karier kita, kita tidak perlu lagi galau apakah perlu dicantumkan di CV atau tidak. Jika dicantumkan dan kemudian ditolak Rekruter, kita bisa tetap hidup wajar tanpa kerja kantoran. Malah mungkin dapat sukses menjadi entrepeneur.

Jika pengalaman kerja bulanan itu tidak dicantumkan pun, Rekruter akan tetap menghargai keahlian dan aktivitas produktif kita selama jeda karier yang tampak di CV.

Hematlah waktu dan energi kita, dengan tidak perlu memikirkan para Rekruter konservatif yang sulit dipuaskan oleh kandidat paling sempurna sekali pun.

Fokuslah pada membangun karakter, keahlian, dan pergaulan terbaik dari diri kita; demi berhubungan baik dengan para Rekruter modern dan progresif yang bisa menghargai para milenial dan siap menyambut realitas masa depan industrial dan korporasi.

Prinsipnya sederhana. Apa pun yang kita awali dengan kejujuran, akan membuahkan hasil akhir yang baik bagi kita. Minimal, pikiran dan hati kita damai-sejahtera.

Dengan kita menjadi pencari kerja yang jujur, kita akan dipertemukan dengan Rekruter yang menghargai kejujuran kita, dan kita akan bekerja di perusahaan yang kultur organisasinya memang menghargai eksistensi para pekerja yang jujur.