Waspada! Bubble Property Mengintai Kestabilan Ekonomi Tanpa Disadari

Apakah kamu familiar dengan istilah bubble property?

Istilah tersebut sebenarnya sudah tak asing di sektor properti dan perekonomian negara. Karena properti bukan sekadar urusan tempat tinggal tetapi juga berkaitan erat dengan sektor perekonomian secara keluruhan.

Bubble property adalah kenaikan harga rumah akibat meningkatnya permintaan dan sejumlah spekulasi lainnya.

Istilah bubble atau gelembung digunakan sebagai perumpamaan karena mirip dengan kondisi gelembung udara yang terus membesar. Sayangnya, kenaikan harga rumah pada tingkat tertentu akan menyebabkan permintaan macet karena sudah tidak terjangkau oleh daya beli. Hal ini dapat dianalogikan seperti gelembung udara yang mulai kempes.

Apa yang Menyebabkan Terjadinya Bubble Property?

Beberapa hal berikut ini turut memicu terjadinya bubble property di suatu negara:

  • Jumlah permintaan rumah yang kian melonjak karena desakan peningkatan populasi penduduk.
  • Bunga bank yang turun membuat orang tergoda untuk memiliki rumah pribadi sebagai aset investasi. Karena bunga bank yang kecil membuat proses kredit terasa lebih ringan.
  • Lokasi perumahan yang sangat strategis, misalnya dekat dengan sejumlah fasilitas umum seperti pusat perbelanjaan, MRT, dan jalur TransJakarta.
  • Kondisi politik yang mendorong peningkatan harga rumah secara drastis di daerah tertentu, contohnya berita pemindahan ibu kota.

Baca Juga: Mengapa Menjual Properti secara Online Merupakan Pilihan Terbaik?

Dampak Negatif yang Ditimbulkan Bubble Property

Saat harga rumah semakin meningkat hingga tidak dapat dijangkau lagi, biasanya ada beberapa dampak negatif yang terjadi, yaitu,

  • Resesi ekonomi (kelesuan aktivitas dagang) berkepanjangan. Hal ini pernah terjadi di Amerika dan Jepang. Bahkan Jepang masih mengalaminya dalam kurun waktu 10 tahun terakhir.
  • Risiko kredit macet semakin besar akibat cicilan rumah yang terlalu tinggi.
  • Bisnis sektor properti mengalami kerugian besar-besaran. Karena harga jual rumah turun drastis mengikuti permintaan yang macet.

Sudah Waktunya Cermat Mengidentifikasi Pasar Properti

Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mencegah timbulnya bubble property adalah prakiraan komponen valuasi dan komponen utang secara cermat. Komponen valuasi digunakan untuk mengukur seberapa mahal harga rumah yang masih bisa diterima semua orang.

Sedangkan komponen utang mengukur seberapa besar persentase utang rumah tangga saat mencicil rumah serta kuantitas eksposur utang bank yang diakumulasikan dengan pinjamannya.

Bila kedua komponen tersebut bisa dikontrol dalam jangka panjang, niscaya risiko bubble property di suatu negara dapat diminimalkan.

Jadi, apakah kamu sudah memiliki hunian pribadi untuk tempat tinggal sekaligus aset investasi?

Jangan tunda niat untuk memiliki rumah pribadi agar nanti kamu tidak terbebani dengan harga yang semakin mahal.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here