Mitos Psikotes yang Sering Bikin Gagal Paham Para Pelamar Kerja

Banyak sekali mitos psikotes yang beredar di luar sana. Seperti yang kita tahu, psikotes merupakan salah satu tahap dalam proses rekrutmen. Di tahap ini, rekrutmen sangat ketat menyaring calon kandidat yang bisa lolos ke tahap selanjutnya (biasanya wawancara).

Beberapa kandidat berkali-kali gagal dalam tahap psikotes ini. Tidak jarang jika pada akhirnya psikotes seperti menjadi momok menakutkan saat proses rekrutmen. Berikut ini ada beberapa mitos tentang psikotes yang justru sering menyesatkan para pelamar kerja.

Gagal Psikotes Sama Saja dengan Tidak Cerdas

Berulang kali gagal psioktes bukan berarti tidak cerdas atau pun sangat tidak kompeten. Pada dasarnya, perusahaan mencari calon kandidat yang sesuai dengan pekerjaannya saja. Jadi, jarang lolos psikotes bukan berarti tidak pintar.

Nah, kegagalan psikotes inilah yang biasanya membuat banyak pelamar kerja makin takut. Rasa percaya diri pun dapat menurun setiap mengikuti proses rekrutmen baru. Padahal, butuh kondisi fisik dan pikiran yang prima dalam mengerjakan soal-soal psikotes.

Baca Juga: Rahasia Sukses Mengikuti Wawancara dalam Kelompok, Simak Ya!

Belajar Psikotes Sangat Perlu agar Sukses

Banyak sekali buku-buku yang berisi tentang soal-soal psikotes. Para pelamar kerja pun biasanya mati-matian belajar mengerjakan soal tersebut sebagai persiapan psikotes di perusahaan. Konon, belajar soal psikotes sangat membantu kelancaran tes saat rekrutmen.

Ternyata mitos psikotes ini tidak benar. Soal-soal di psikotes tidak hanya mencari jawaban benar dan salah. Salah satu faktor penting yang justru harus disiapkan adalah kebugaran fisik dan pikiran agar tetap fokus saat mengerjakan psikotes.

Harus Banyak Menyelesaikan Soal di Tes Kraepelin

Salah satu bentuk psikotes yang cukup sering muncul adalah tes Kraepelin. Tes mengharuskan peserta menjumlahkan angka-angka dari bawah ke atas dalam kolom baris yang banyak. Mitos psikotes yang banyak dipercayai adalah kesuksesan tes ini tergantung dari banyaknya soal yang dikerjakan.

Hal ini memang benar adanya. Namun, akan jauh lebih baik jika berfokus dalam proses mengerjakan soal daripada ambisi menyelesaikan banyak. Pasalnya, tes ini ingin melihat ketahanan dan konsistensi pelamar kerja dalam mengerjakan soal.

Mitos psikotes mana yang paling sering kamu dengar? Jangan hanya berfokus pada mitos-mitos yang ada ya. Lebih baik persiapkan kondisimu secara prima sebelum mengikuti psikotes agar berjalan lancar. Semangat!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here