Berinvestasi pada Startup Saat Pandemi, Apa Sikap Venture Capital?

Raditya Pramana, Partner di Venturra Discovery. (FOTO: dok. Venturra Discovery)

Apa yang harus dilakukan startup untuk menyelamatkan bisnisnya di masa pandemi COVID-19? Raditya Pramana, Partner dari Venturra Discovery, venture capital yang fokus berinvestasi pada startup early stage di kawasan ASEAN, menegaskan pentingnya para pelaku bisnis rintisan untuk memperpanjang runway bisnisnya.

Runway atau umur startup berdasarkan dana yang masih dimiliki setidaknya disebut Raditya cukup untuk 18 bulan ke depan. Startup harus bisa bertahan dengan runway sebelum investor memutuskan untuk kembali menyuntikkan dana. Permasalahannya, pandemi COVID-19 memaksa investor untuk tak lagi seaktif sebelumnya dalam berinvestasi.

Kepada Job-Like Magazine melalui komunikasi Zoom, Raditya menjelaskan bahwa para venture capital berada dalam posisi menunggu sinyal kembali pulihnya perekonomian dunia. Tentu, venture capital tak ingin menjebloskan diri dengan berinvestasi pada startup ketika banyak sektor bisnis yang terdampak oleh pandemi. 

Baca Juga: Langkah Sederhana Menjaga Keuangan Startup Tetap Sehat

Meski, Venturra Discovery sendiri dijelaskan Raditya masih aktif berinvestasi pada startup dengan kisaran investasi US$200ribu hingga US$500ribu, namun prosesnya dilakukan dengan lebih ketat dan berhati-hati. Venturra Discovery akan memastikan bahwa calon investasi yang mereka lakukan tepat sasaran. Artinya, meskipun startup tersebut turut merasakan dampak negatif pandemi, namun dampaknya minim. 

“Prospek investasi saat ini kurang baik. Tidak ada yang tahu kapan situasinya akan selesai. Semua orang masih memonitor situasi. Tanpa terkecuali banyak yang terpengaruh, hanya saja ada yang dampak negatifnya minim, ada yang positif. Kalaupun dampaknya positif, kami harus memilih startup yang dampak positifnya paling banyak dari saingannya,” ujar Raditya.

“Proses investasinya tetap sama, hanya kami akan lebih disiplin, dan berhati-hati. Saat lockdown kemarin, kami sempat closed satu deal pada bulan April. Kenyataannya, berinvestasi pada 5 tahun lalu dan hari ini banyak yang berbeda dan cukup drastis,” imbuhnya. 

Itu sebabnya, kemampuan runway startup menjadi faktor penting pada periode saat ini. Untuk menjaga runway bisnisnya, pelaku startup harus menerapkan beberapa kebijakan, salah satunya memotong bujet marketing. Bahkan ada baiknya ditiadakan. Sebagai gantinya, strategi marketing bisa digeser dengan menggunakan organic channel

Kebijakan berikutnya yang bisa diterapkan adalah mengatur kembali pengeluaran gaji bulanan. Apabila strategi ini diterapkan maka nilai pemotongan terbesar terjadi pada jajaran eksekutif, lalu mengerucut ke staf. Menjaga runway sebelum investor kembali berinvestasi pada startup juga bisa dilakukan dengan negosiasi ulang perihal penyewaan ruang kantor, atau menerapkan sistem full remote working.

Baca Juga: Apa yang Harus Diperhatikan Startup dalam Pendanaan dari Investor?

Raditya: “Mencari Investor Itu Cocok-cocokan, Seperti Pasangan”

Berinvestasi pada startup diakui Raditya memiliki risiko yang tinggi. Pasalnya, ada banyak ketidakpastian akan perjalanan bisnis sebuah startup. Faktor penyebabnya bisa dikarenakan bisnis model yang ternyata tidak tepat, ataupun ketidakcocokkan hubungan dengan founder. Raditya menggambarkan proses investasi pada startup layaknya menjalin hubungan dengan pasangan.

Itu sebabnya, penting untuk investor menemukan founder dengan karakter yang sesuai dengan pandangannya. Pun sebaliknya. Singkatnya, chemistry sangat berperan besar. Nah, agar tidak salah pasangan, Raditya menyarankan kepada para pendiri startup untuk tidak melihat proses pitching hanya sekadar panggung untuk memenangkan investasi.

“Mencari investor bukan seperti menang lomba, tapi seperti mencari pasangan. Cocok-cocokan, karena hubungannya akan panjang. Kami akan bekerja sama selama bertahun-tahun. Jadi, ketika pitching sebaiknya bangun komunikasi untuk kenal satu sama lain. Jangan one way communication seperti di depan juri,” tuturnya.

“Perkenalkan bisnis model dan visi startup kamu ke investor. Lalu, tanya balik ke investor mengenai pendapat mereka. Investasi di startup risikonya sangat tinggi. Peluang ternyata tidak sesuai ekspektasi itu ada. Bisa karena bisnis modelnya, kompetisi, foundernya, atau se-simple timing,” lanjut salah satu Young Leader for Indonesia menurut McKinsey & Company ini.

Baca Juga: Ingin Mendirikan Startup?Kenali Dulu Jenis Pendanaannya

Meski terjun ke dunia investasi yang sarat risiko, Raditya menikmati perannya sebagai seorang Partner. Menurutnya, berkarier di venture capital merupakan pekerjaan yang menginspirasi. Setiap harinya, ia berkesempatan untuk bertemu dengan orang dari pelbagai profesi dan industri. Menariknya lagi, Venturra Discovery yang fokus pada startup teknologi membuka peluangnya untuk turut berkontribusi pada perubahan melalui inovasi.

“Sebenarnya, saya tidak sengaja masuk ke industri ini. Saya mulai di VC (venture capital) pada akhir tahun 2013, kala itu industrinya saja belum ada. Waktu itu saya magang di VC Jepang. Dari awal nyoba-nyoba, ternyata seru,” ceritanya.

“Saya melihat banyak hal dan belajar dari orang yang berbeda-beda. Hari ini saya bisa ngobrol dengan startup A lalu B, saya harus bisa memahami banyak hal dengan tipe-tipe orang yang berbeda. Terlebih belakang ini dengan investing di tech, you can become a part of change,” ujarnya.

Bersama IMJ Investment Partners, Raditya berkontribusi dalam proses investasi pada startup Kudo, Fabelio, dan Kata AI. Pada November 2015, ia bergabung dengan Venturra Capital sebagai Investment Manager. Sejak September 2018, Raditya fokus di Venturra Discovery. Venturra telah berinvestasi pada startup-startup sukses di Indonesia, seperti Ruangguru dan Sociolla.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here