Artificial Intelligent “Membajak” Pekerjaan Manusia? Faktanya Ini Lho…

Nodeflux fokus membangun solusi AI di Indonesia. (Mega.Fransisca/Job-Like.com)

Benarkah Artificial Intelligent adalah “musuh” manusia yang harus diberantas sejak dini?

Ketakutan masyarakat terkait artificial intelligent akan mengambil alih pekerjaan manusia terus menggema. Industri dinilai tidak lagi membutuhkan tenaga manusia karena kecerdasan artificial intelligent yang menyamai manusia. Lalu, bagaimana nasib manusia?

Bila artificial intelligent (AI) menguasai industri kerja, maka tingkat pengangguran akan melonjak. Tak heran, masyarakat dunia, termasuk Indonesia, pesimis menyambut perkembangan teknologi revolusi industri 4.0. Untuk meredam kekhawatiran masyarakat, Nodeflux gencar mensosialisasikan edukasi mengenai AI.

Melalui acara Nodeflux Beyond, masyarakat diajak untuk lebih mengenal tentang AI dan aplikasinya dalam beberapa produk teknologi. Co-founder Nodeflux, Faris Rahman, menekankan bahwa AI dikembangkan bukan untuk memangkas pekerjaan manusia. Meski, tak dipungkiri akan ada pergeseran bidang pekerjaan ke depannya.

“Akan ada elemen pekerjaan yang dulu dilakukan oleh beberapa orang dan sekarang bisa di-handle satu orang. Intinya, teknologi itu tools untuk manusia doing more, bukan menghilangkan pekerjaan. Tapi, justru menciptakan lapangan pekerjaan baru. Memang akan ada shifting, tapi ke arah yang lebih baik,” tutur Faris.

Untuk mengembangkan AI lebih cepat di Indonesia, Nodeflux mengandeng pelaku bisnis, akademisi, dan pemerintah untuk membentuk ekosistem AI. Untuk perwujudannya, Faris mengatakan diperlukan adanya perbaikan di beberapa sektor.

Infrastruktur Digital

“Untuk teknologi berbasis digital, apakah infrastruktur digitalnya sudah mumpuni? Nah, kita melihat bahwa internet user di Indonesia cukup tinggi dan itu menjadi pilar atau pondasi matang untuk menumbuhkan teknologi yang lain. Ini bagaimana ita bisa berkolaborasi secara teknologi dengan memanfaatkan infrastruktur yang sudah ada,” jelas Faris.

Peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM)

Nodeflux gandeng Universitas Binus untuk meningkatkan SDM di bidang AI. (Mega.Fransisca/Job-Like.com)

Ini sektor yang sangat menantang untuk saat ini. Nodeflux sendiri masih kesulitan mendapatkan SDM untuk bidang AI. Sebagai solusi, Nodeflux berkolaborasi dengan universitas-universitas yang menyediakan pusat AI untuk melahirkan calon profesional AI.

“Dengan berjalannya waktu, demand yang sudah terbentuk maka suplai akan cukup banyak. Nodeflux mengarah bagaimana berkolaborasi dengan akademis. Pertama, untuk meng-introduce bahwa ada teknologi AI dan punya market. Dan penghasil SDM adalah akademis,” kata Faris.

Kolaborasi dengan pihak akademisi juga disebut Faris penting untuk mengembangkan teknologi AI itu sendiri. Caranya? Melalui riset akademis yang meneliti metodologi-metodologi baru dari AI. Hasil riset tersebut akan berguna untuk proses penyempurnaan teknologi AI.

Baca Juga: Co-Founder Nodeflux: AI Bisa Memberikan Solusi untuk Masyarakat

Saat ini, teknologi AI belum sepenuhnya sempurna dan setidaknya ada tiga hal yang masih menyedot perhatian khusus para pelaku AI di Indonesia untuk menciptakan produk yang bisa diaplikasikan ke dalam kehidupan keseharian. Yakni, akurasi, performance, dan scability.

“Akurasi maksudnya, kalau sistem atau algoritma tidak akurat maka tidak bisa diterima market. Kalau performance tidak baik, misalnya untuk melakukan deteksi butuh waktu satu hari, itu tidak responsif jadi tidak bisa dipakai. Scability itu bagaimana bisa diterapkan secara luas.”

Beri komentar Anda tentang artikel ini