CEO GnB Accelerator: Mengapa Peluang Startup di Indonesia Besar?

Kentaro Hashimoto, CEO GnB Accelerator. (Job-Like Magazine/Mega.Fransisca)

Indonesia sudah seperti ladang startup seiring banyaknya bermunculan perusahaan rintisan di segala sektor kehidupan. Sebut saja, startup yang terkonsentrasi di dunia perdagangan elektronik atau e-commerce, finansial eletronik atau fintech, hingga agritech. Apakah Anda juga tertarik mendirikan startup?

Apa saja yang harus Anda persiapkan untuk membangun perusahaan rintisan? Dan, mengapa Indonesia menjadi lahan yang subur untuk menjajal peruntungan sebagai entrepreneur yang mengedepankan kekuatan teknologi? Job-Like Magazine membahasnya bersama Kentaro Hashimoto, CEO GnB Accelerator.

GnB Accelerator berperan sebagai program untuk mempercepat perkembangan startup-startup muda melalui kegiatan workshop and mentoring oleh para ahli di dunia bisnis. Program akselerasi ini diprakarsai oleh perusahaan IT asal Jepang, Infocom Corporation. Tercatat, 26 startup Indonesia sudah “lulus” dari empat batch GnB Accelerator dan mendapatkan pendanaan dari “angel investor”.

Kentaro menilai tingginya pertumbuhan startup di Indonesia lantaran kompleksnya persoalan yang ada di tengah masyarakat. Situasi ini berbanding terbalik dengan kondisi di Jepang yang terbilang sudah teratur dan maju, terutama dari segi infrastruktur. Sehingga sulit bagi pebisnis Jepang untuk melahirkan ide-ide segar sebagai solusi masalah sosial masyarakat.

Ide segar untuk membangun startup baru lebih besar direalisasikan di Indonesia ketimbang di Jepang.

Startup Indonesia memiliki kesempatan lebih banyak. Pasar di Jepang memang bagus tapi membuat frustasi karena founder sulit menemukan ‘issue’ yang bagus. Untuk membangun startup atau perusahaan kan harus menemukan ‘issue’,” ujar Kentaro ketika ditemui Job-Like Magazine di kantornya di kawasan Mega Kuningan, Jakarta Selatan.

“Sementara di Indonesia ada banyak kesulitan, tapi ini menguntungkan buat founder atau entrepreneur karena ada banyak masalah yang bisa diselesaikan. Saya selalu mengatakan kepada entrepreneur potensial, banyak orang ingin melebarkan sayap ke negara maju tapi sangat sulit karena negara maju sudah memiliki segalanya. Sebaliknya, di Indonesia masih berkembang, semuanya masih tumbuh,” tuturnya.

Selain “keuntungan” memiliki banyak masalah yang harus ditemukan solusinya, para founders startup di Indonesia juga lebih mudah mendapatkan pendanaan dari “angel investor” ketimbang yang dialami pebisnis Jepang. “Angel investor” adalah individu yang menyuntikkan dana untuk startup dan sebagai timbal baliknya ia akan mendapatkan kesetaraan hak saham.

Baca Juga: Mau Cari Investor? Ada Baiknya Perhatikan Beberapa Hal Ini

Para startup “lulusan” GnB Accelerator telah mendapatkan suntikan dana beragam mulai dari US$5 ribu hingga US$1 juta. Besar nominal pendanaan tergantung dari masing-masing startup dan negosiasi dengan investor. Kucuran dana akan meningkat ketika startup tersebut memasuki level pendanaan berikutnya, yakni series B, series C, dan selanjutnya.

Kriteria bagi Startup Muda yang Ingin Mendapatkan Mentoring

GnB Accelerator menyediakan lebih dari 50 mentor dari seluruh dunia yang ahli di bidangnya masing-masing, seperti keuangan, hukum, bisnis, dan lain-lain. Para mentor ini juga merupakan pendiri perusahaan yang sudah mencapai tangga kesuksesan. Proses mentoring merupakan tahap penting bagi startup muda untuk mengembangkan bisnis mereka.

Kentaro menyebutkan tiga kriteria utama yang harus dimiliki perusahaan rintisan baru yang mendaftarkan dirinya untuk mengikuti program akselerasi dari GnB Accelerator. Yaitu, tim, strategi bisnis, dan kepribadian sang founder.

“Pertama adalah tim. Kami melihat anggota timnya. Kebanyakan founder di Indonesia memiliki koneksi yang bagus. Tanpa koneksi sulit bagi mereka untuk sukses. Jadi, harus memiliki koneksi yang bagus,” bilang Kentaro.

Baca Juga: Yuk, Intip Kompleksnya Keseharian Seorang Founder Startup

“Kedua, business strategy. Bila mereka memiliki tim yang bagus tapi strategi yang sangat buruk, akan sulit juga bagi kami. Sebelum memulai program, kami melakukan beberapa wawancara, bila mereka egois kendati memiliki latar belakang dan strategi yang bagus, akan sulit. Jadi, yang terakhir adalah kepribadian founder-nya.”

Nah, apakah Anda sudah memiliki ketiga kriteria tersebut untuk menjadi founder yang sukses?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here