Peluang Kerja di Industri Media untuk Penyandang Disabilitas

tenaga kerja disabilitas

Putus asa kerap dialami oleh para penyandang disabilitas terutama ketika mereka memasuki usia produktif bekerja. Kekurangan kondisi fisik terkadang menjadi penghalang bagi mereka, untuk mendapatkan pekerjaan impian. Meski dalam peraturan perundang-undangan nomor 8 tahun 2016 tentang disabilitas disebutkan bahwa pemerintah, Pemda, BUMN, dan BUMN wajib menerima tenaga kerja disabilitas sebanyak 2%, dan swasta wajib menerima tenaga kerja disabilitas sebanyak 1% namun dalam praktiknya, tidak semudah yang tertulis dalam undang-undang.

Berdasarkan data yang dimiliki oleh Kementerian Ketenagakerjaan, di Indonesia terdapat 21 juta penyandang disabilitas. Lebih dari 90% memang sudah menempati lapangan pekerjaan baik sektor formal maupun informal. Namun, masih ada sekitar 4% yang tercatat masih menganggur atau setara dengan 440 ribu penyandang disabilitas. Angka ini tidaklah kecil, maka perlu kerja sama dari berbagai pihak untuk mendukung memberdayakan para pekerja penyandang disabilitas.

Meski ada peluang, namun pekerja difabel kerap dipandang sebelah mata

Kisah ini datang dari Founder KamiBijak (Kami Berbahasa Isyarat Jakarta). KamiBijak merupakan platform media online yang menyediakan informasi dengan kemasan ramah disabilitas, terutama bagi teman-teman tuli. Media online ini baru dirilis pada September 2018.

Baca Juga: Cerita dari Atas Laut: Besarnya Tanggung Jawab Seorang Nakhoda

Paulus Ganesha Aryo Prakoso menjadi salah satu orang yang ada di belakang berdirinya KamiBijak. Penyandang tuli ini sebelumnya pernah bekerja di salah satu perusahaan multinasional, dan menempati departemen IT. Meski tuli, sejak sekolah hingga bekerja Paulus selalu berhadapan dengan orang-orang dengar dan berusaha menciptakan suasana inklusif baik di sekolah, kampus, hingga perusahaan.

Tenaga Kerja Disabilitas
Reporter KamiBijak mewawancarai narasumber dengan bahasa isyarat

“Saya kerja di bidang IT selama 5 tahun. Saya pernah menjabat sebagai Manajer IT, di tengah karyawan dengar hanya saya yang tuli. Di sana saya berusaha untuk membuktikan kinerja terbaik. Misalnya dengan membuat sebuah aplikasi. Tetapi tak jarang pembuktian tersebut justru dipandang sebelah mata. Tetapi saya tetap sabar dan jalan terus,”ungkapnya.

Baca Juga : Nick Vujicic, Kisah Seorang Penyandang Disabilitas yang Kini Sukses

Hal tersebut menjadi motivasi Paulus untuk terus menunjukkan kepada masyarakat dan lingkungan bahwa, menjadi “berbeda” tidak akan menimbulkan masalah selama berprestasi. Saat itu, Paulus berinisiatif untuk membuat sebuah media online yang berbeda. Berkaca dari pengalamannya sebagai tenaga kerja difabel, Paulus menggagas ide untuk membentuk media online yang tak hanya memproduksi informasi yang dapat dinikmati oleh penyandang tuli namun juga mempekerjakan para penyandang tuli sebagian bagian dari tim media tersebut. 

“KamiBijak itu sebuah platform video online yang ramah untuk teman-teman disabilitas, khususnya penyandang tuli karena menggunakan bahasa isyarat dan tersedia teksnya. Tantangannya ada pada mencari karyawan. Banyak tenaga kerja disabilitas yang mendaftar pada waktu itu, tetapi ruang kami belum cukup besar jadi hanya merekrut 5 orang. Mereka kami beri pelatihan media seperti reporting, video, cameraman, dan editing. Kami ingin menjadikan KamiBijak sebagai media yang ramah kepada disabilitas,” tuturnya.

Tenaga kerja difabel
Juru Bahasa Isyarat mendampingi proses peliputan KamiBijak

Dalam perbincangan dengan Job-Like Magazine, Paulus menyatakan KamiBijak awalnya hanya mempekerjakan 2 orang penyandang tuli sebagai reporter dan cameraman. Saat ini, mereka memiliki 6 orang penyandang tuli yang bekerja di belakang layar KamiBijak. Melalui media ini, Paulus ingin menyampaikan bahwa semua orang (terlepas dari kekurangan yang dimiliki) memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dan bermanfaat untuk sesama.

“KamiBijak ingin memberdayakan SDM disabilitas yang nantinya akan membuka mata masyarakat bahwa disabilitas juga bisa berkarya. Dengan menggunakan media, kami juga ingin menghadirkan kondisi lingkungan yang ramah terhadap penyandang disabilitas. Untuk teman-teman disabilitas, jangan berkecil hati. Kita harus berbesar hati dan percaya diri karena kita semua setara”

Paulus Ganseha Aryo Prakoso, Founder KamiBijak

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here