Milenial, Jangan Mau Dicap “Kutu Loncat”! Yuk Ikuti Tips Master Trainer Ini

Label generasi “kutu loncat” sering disemat kepada pekerja dari generasi milenial. Label ini merujuk pada seringnya pekerja milenial berpindah bidang dan lokasi kerja. Namun, salahkah fenomena “kutu loncat” ini?

Sulitnya pekerja milenial untuk bertahan di satu karier atau perusahaan memang menjadi keresahan generasi pendahulu yang berstatus sebagai rekan kerja mereka. Keluar masuknya karyawan dalam waktu singkat tentu memengaruhi ritme dan tugas kerja.

Sementara itu, dari “kacamata” milenial, berpindah-pindah pekerjaan merupakan salah satu proses pengembangan diri. Namun, ternyata fenomena berpindah profesi bukan baru dipamorkan oleh generasi milenial loh. Anda mungkin pernah dengar istilah “banting stir”.

Setali tiga uang dengan “kutu loncat”, “banting stir” ke karier baru sudah terjadi pada masa generasi pendahulu. Nah, seperti alasan yang dilontarkan milenial, pemicu seseorang pindah haluan kerja bisa dikarenakan tengah mencari jati diri dan kompetensi diri.

Zulfikar Alimuddin, transformation coach & master trainer, yang fokus membangun karakter seseorang melalui rekayasa cara berpikir. (Job-Like Magazine/Mega.Fransisca)

Pergulatan berpindah-pindah kerja juga pernah dialami Zulfikar Alimuddin, transformation coach & master trainer. Dalam kariernya, ia beberapa kali berganti profesi. Uniknya, profesinya tidak memiliki benang merah yang kasat mata.

Rasa ingin tahu Zulfikar mendalami pelbagai bidang juga terjadi di ketika ia menimba ilmu pendidikan. Setelah lulus dari Institute Teknologi Bandung (ITB) dari jurusan Science in Management, Zulfikar “banting stir” mendalami aerospace di RMIT University, Australia, hanya karena ia membaca buku mengenai mantan presiden Republik Indonesia (RI), B.J. Habibie.

Kepada Job-Like Magazine, Zulfikar menuturkan bahwa berpindah kerja harus dibarengi dengan persiapan yang matang. Apa saja resep agar “kutu loncat” tak sekadar hanya pindah tanpa prestasi dan ilmu?

Kumpulkan Informasi Sebanyak Mungkin

Apapun konteksnya, ketika berhadapan dengan sesuatu yang baru maka cara terbaik untuk mengatasinya adalah dengan mempelajarinya. Sama halnya dengan mendalami pekerjaan baru.

Cari tahu, cari tahu, dan cari tahu.

Bagaimana caranya? Brainstroming yang termudah adalah membaca. Carilah informasi dari buku atau media lainnya, mengenai tugas, peranan, serta perusahaan baru ini.

“Untuk mengatasi situasi yang baru kita harus siap untuk mau belajar. Kata ‘belajar’ ini tidak sangat generik, tapi betul-betul belajar untuk perubahan, untuk menjadi lebih bisa,” kata Zulfikar.

“Bila Anda ingin menjadi sales manager atau sales director, cari tahu seperti apa sih figur seorang sales director itu? Atau anak-anak sekarang ingin jadi influencer, seperti apa sih influencer itu?”

“Kutu Loncat” Harus Siapkan Skill & Kompetensi

Zulfikar menegaskan pentingnya mempersiapkan skill dan kompetensi sebelum memutuskan untuk pindah kerja. Melalui seminarnya, ia selalu mengajak para pekerja untuk memahami pekerjaannya dan seberapa tepat kompetensi yang mereka miliki untuk mengembangkan karier.

“Siapkan skill dan kompetensi karena kita akan dihargai dari keduanya itu. Bila seseorang mau pindah kerja tapi belum sempat mempersiapkan keduanya, tahan dulu selama 2-3 tahun untuk proses persiapan.”

Baca Juga: Apa Sih Data Analytics, Profesi Kerja yang Semakin Dicari Startup

Mencari Networking Penting untuk “Kutu Loncat”

Hambatan di awal pergantian bidang pekerjaan bisa terjadi. Oleh karena itu, pembekalan diri harus terus dilakukan. Salah satunya, melalui networking. Jangan malas untuk bertemu dengan orang baru yang bisa menjadi sumber ilmu dan inspirasi.

“Ketika hambatan muncul karena kurang ilmu, kurang pengalaman, saya cari network, cari teman, cari orang lain. Sepulang kantor saya suka luangkan waktu mengajak orang ngopi dan ngobrol. Bukannya saya suka bicara, tapi saya suka bertanya,” tutur Zulfikar.

Nah, sudah siapkah Anda menerima tantangan baru? Jangan jadi generasi “kutu loncat” yang tanpa bekal ya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here