Susah Mencari Kerja di Luar Jakarta? Pahami Dulu Hal-hal Berikut

Dalam hal kemudahan mencari kerja, harus kita akui bersama bahwa saat ini Indonesia masih terasa “Jakarta-Sentris” atau “Kota Besar-Sentris”.

Ada banyak keluhan bahwa para pencari kerja, baik yang memang sejak awalnya tinggal di daerah, atau pun mereka yang harus pindah ke daerah karena sebab pribadi; sulit mendapatkan kesempatan kerja.

Apa penyebabnya?

Tidak lain adalah karena memang industrialisasi dan korporasi di Indonesia masih terpusat di Jakarta dan sejumlah kota besar lainnya.

Berikut ini adalah beberapa pemahaman dan tips yang sebaiknya kita serapi terlebih dahulu, ketika berencana untuk mencari kerja di daerah:

  1. Pertama-tama, kita akui dan terima realitas bahwa ada perbedaan kaidah karir dan ketenagakerjaan antara Jakarta (atau kota besar), dengan daerah. Ini penting agar kita tidak berekspektasi terlalu tinggi, lalu menjadi frustasi jika menemui berbagai hambatan.

    Khususnya dalam hal pengupahan, jenjang karier, dan pengembangan Sumber Daya Manusia. Jangan terlalu membandingkan aspek-aspek karier tersebut antara kota besar dengan daerah; karena memang tidak akan pernah sama.

  2. Di satu sisi, pilihan berbagai lowongan kerja di daerah memang tidak sebanyak dan tidak seberagam di kota besar. Di sisi positifnya, tuntutan spesifikasi pelamar di daerah umumnya tidak tinggi, sehingga relatif lebih mudah untuk didapatkan oleh mereka yang baru lulus sekolah/kuliah, dengan pengalaman dan keahlian minim.

  3. Umumnya, bisnis di kota kecil dan daerah adalah jenis perusahaan keluarga, pabrik, pertambangan, perhotelan, pariwisata, pertanian, perkebunan, dagang, kuliner, atau cabang kedistributoran.

    Sebelum melayangkan lamaran, carilah informasi sebanyak-banyaknya dari internet atau jejaring pertemanan, tentang karakteristik industri yang akan kita masuki.

    Misalnya, jangan sampai kita sudah susah-payah menjalani proses rekrutmen yang memakan biaya, energi dan waktu; tapi ketika melihat sistem kerja roster di pertambangan, lalu mundur dari proses rekrutmen, karena inginnya mendapatkan sistem hari kerja kantoran.

  4. Dunia manufaktur di daerah belum terlalu terpapar dengan teknologi robotik dan otomatisasi, sehingga masih membutuhkan tenaga kerja manusia (padat karya).

  5. Sejumlah jenis perusahaan yang kantor cabang/operasionalnya di daerah, dengan kantor pusat di Jakarta, mengharuskan pelamar untuk menjalani proses rekrutmen di Jakarta, karena kantor cabang/operasional non-Jakarta tidak punya otoritas untuk melakukan rekrutmen. Siapkanlah waktu dan biaya untuk menjalaninya.

  6. Umumnya perusahaan di daerah yang otoritas rekrutmennya ada pada mereka secara langsung, cenderung memprioritaskan putra-putri daerah setempat; dibandingkan dengan pendatang/perantau. Jangan lupa untuk mencantumkan perihal keuntungan domisili ini di CV, agar dapat langsung dikenali oleh rekruter.

  7. Bagi mereka yang sempat berkarier di Jakarta (kota besar lainnya), umumnya merasakan kesulitan mencari kerja ketika berpindah domisili ke daerah, akibat penolakan rekruter yang melihat CV mereka sebagai “kemahalan” atau “overspek”. Memang inilah realitasnya. Jangan patah semangat untuk tetap berusaha, perkuat jejaring pertemanan dengan sejumlah pemilik usaha/bisnis di daerah.

  8. Apabila kita sudah lama sekali mencari kerja di daerah dan tidak kunjung berjodoh, namun kondisi tetap tidak memungkinkan kita untuk merantau ke kota besar atau Jakarta; maka kita harus menyiapkan opsi untuk menjalankan kewirausahan.

    Karena nuansa kehidupan di daerah yang lebih tenang, justru ini merupakan kesempatan yang baik juga untuk mulai memikirkan kewirausahaan sebagai pilihan.

Baca Juga: Penting! Jangan Meremehkan Pencantuman Domisili dalam CV

Akhir kata, selamat berjuang mencari kerja dan membangun karier di daerah; sambil terus mendoakan kemajuan bangsa Indonesia agar terjadi pemerataan industrialisasi, korporasi, dan kesempatan kerja hingga ke daerah, kota kecil, dan pelosok.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here