Apa yang Harus Diperhatikan Startup dalam Pendanaan dari Investor?

Bagi penggiat startup, mendapatkan pendanaan untuk mengembangkan bisnisnya jelas sebuah asa yang tak bisa dipungkiri. Maklum, kebanyakan founder startup masih hanya mengandalkan modal ide. Kalaupun memiliki dana, biasanya dana dari kantong sendiri atau yang biasa disebut bootstrapping jumlahnya tidak seberapa. Jadi, tak heran founder berlomba-lomba mendapatkan pendanaan dari investor.

Tipe investasi pada startup atau perusahaan rintis ada beberapa ragam yang disesuaikan dengan level perkembangan bisnis masing-masing startup. Untuk startup di early stage atau tahap awal, pendanaan dari investor yang dilakukan adalah seed capital atau seed funding.

Sosok seed capital biasanya dilakukan oleh orang-orang terdekat founder, seperti keluarga atau relasi. Atau angel investor dan venture capital yang memang berfokus mengucurkan dana awal bagi startup baru. Angel investor sendiri adalah individu yang memiliki kekayaan untuk menanamkan modalnya dengan timbal balik obligasi konversi atau ekuitas kepemilikan.

Berapa kisaran dana yang disuntikkan dalam seed capital? Antara Rp500 juta hingga Rp2,5 miliar. Namun, bila startup tersebut sudah mulai menjadi pembicaraan publik, besar kemungkinan angel investor akan menyuntikkan modal yang lebih besar lagi. Artinya, angel investor sudah melihat adanya potensi bisnis untuk scale up

Baca Juga: Founder Startup Logistik Piniship: Profit Penting, Tapi Idealis Juga Perlu

Setelah itu, ada tahapan pendanaan dari investor yang bernama Seri A. Pendanaan Serie A atau venture capital ini akan diberikan kepada startup yang sudah siap untuk scale up. Oleh karena itu, sebuah startup bisa mendapatkan pendanaan dari investor sebesar Rp10 miliar hingga Rp33 miliar.

Founder Startup Harus Pelajari Profil Investor sebelum Menerima Pendanaan

Menurut Founder Piniship, Julio, sebaiknya startup tidak serta merta tergiur dengan tawaran pendanaan dari investor tanpa memelajari profil dari venture capital tersebut. Ia menegaskan faktor uang bukan jaminan mutlak, bila portofolio venture capital tersebut tidak bisa membantu dalam pengembangan bisnisnya. 

“Ada yang namanya smart money. Ini bukan hanya sekadar menerima suntikan uang, tetapi harus melihat juga sosok di balik uang tersebut. Ketika saya mendapatkan tawaran dari venture capital, saya harus melihat profilnya. Apakah venture capital tersebut memiliki perusahaan yang bisa mendukung bisnis saya?” kata Julio.

“Misalnya, ketika saya bergabung dengan GK Plug and Play, saya melihat perusahaan di dalam mereka seperti Sinarmas dan Astra. Bisnis kami bisa relate dengan sister company Sinarmas, itu peluang buat kolaborasi dengan Sinarmas. Oleh karena itu, kita harus melihat visi dan profil di baliknya, tidak hanya uangnya,” tuturnya.

Ucapan Julio diamini Edward Tirtanata, CEO dan Co-Founder Kopi Kenangan, yang menandaskan pentingnya untuk mengetahui profil dan nilai yang bisa diberikan sang investor ke dalam bisnis.

“Untuk menentukan investor yang tepat, kamu harus tahu value apa yang bisa disuntikan oleh investor tersebut untuk perusahaan kamu. Di Asia Tenggara, tidak dipungkiri perputaran uangnya sangat tinggi, tetapi investor bisa memberikan nilai lebih sangat terbatas,” bilang Edward.

Nah, setelah Seri A, pendanaan dari investor berikutnya adalah Seri B yang dikucurkan kepada startup dengan pendapatan yang stabil selama dua hingga empat tahun. Nilai pendanaan dari investor sebesar Rp22 miliar hingga Rp80 miliar dalam tahap ini biasanya digunakan untuk memperlebar pasar, konsumen, dan juga model bisnisnya. 

Bagi startup yang telah berkembang secara bisnis dan profit, bisa mendaftarkan perusahaannya di bursa saham dengan memasuki tahap IPO (Initial Public Offering). Artinya, startup akan mendapatkan pendanaan dari penjualan saham perusahaannya kepada publik. Sebagai timbal baliknya, perusahaan wajib melaporkan keuangannya secara publik.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here