Work Abroad: Mau Merasakan Kerja ala “Made in Germany”? Ini Ceritanya

Suadhe Rahmat Siregar, berawal dari kuliah di Hochschule Anhalt kini bekerja untuk Ti Automotive. (dok. pribadi)

Made in Germany. Apa yang terlintas di benak kamu ketika membaca atau mendengar slogan itu? Made in Germany = jaminan kualitas. Benar. Itu juga yang membuat saya bangga bisa menjadi bagian dari “made in Germany”. Sekarang ini saya bekerja untuk Ti Automotive cabang Jerman.

Bagaimana rasanya bekerja untuk Ti Automotive? Atau Amazon cabang Jerman? Atau bekerja di Jerman itu sendiri, yang dikenal sebagai negara super disiplin? Saya, Suadhe Rahmat Siregar, akan bercerita sedikit mengenai pengalaman kerja selama tiga tahun terakhir pada edisi Work Abroad kali ini. Semoga pengalaman saya ini bisa memotivasi teman-teman yang tertarik bekerja di Jerman.

Karier saya di Jerman dimulai ketika saya menimba pendidikan di Hochschule Anhalt, di Bernburg. Saya mengambil master degree jurusan MBA International Trade. Saya belajar mengenai hukum, sumber daya manusia, marketing, manajemen proyek, strategi logistis, dan accounting yang serba internasional. Intinya, kami dipersiapkan untuk melakoni perdagangan internasional. Berbekal ilmu ini, saya diterima oleh Amazon.

Dari Bernburg saya pun pindah ke Leipzig, markas Amazon. Kebetulan kuliah saya tinggal menyisakan tesis. Kuliah sambil bekerja hal yang lumrah di Jerman. Lagian, lumayan juga penghasilannya bisa menambah uang saku. Ketika itu saya kerja untuk Amazon FC (fulfillment center) yang berada di bawah Amazon GmbH.

Amazon FC itu ibaratnya gudang barang yang akan dijual ke konsumen. Ada dua proses di Amazon FC, yaitu inbound dan outbound. Nah, saya bertugas di outbound proses, yakni menyortir barang-barang yang keluar dari gudang untuk dikirim ke konsumen. Lebih detailnya, saya mengambil barang dari gudang lalu mengemasnya sesuai pesanan.

Cukup melelahkan, tapi lumayanlah buat mahasiswa. Sekarang saya sudah tidak bekerja di Amazon FC. Setelah lulus, saya bergabung dengan Ti Automotive, produsen sparepart mobil yang akan didistribusikan ke pabrik mobil Porsche, BMW, dan Mercedes.

Melebihi Ketentuan Jam Kerja, Perusahaan Akan Dituntut Mengekploitasi Pekerja

Suadhe Rahmat Siregar (kedua dari kiri) belajar ketatnya quality control ala Jerman. (dok. pribadi)

Nah, di sinilah saya dituntut bekerja lebih ketat dan zero tolerance for the mistake. Quality control sangat dijaga. Maklum, pasokan utama perusahaan kami adalah rem mobil. Kebayang dong vitalnya rem mobil bagi kendaraan?   

Quality control dilakukan dengan mengambil sampel dari tiap 25 unit produksi. Kemudian sampel diletakkan ke dalam cetakan palet yang telah dikonfigurasi dan disediakan oleh pabrikan masing-masing mobil. Pemeriksaannya super ketat.

Saking ketatnya uji kualitas yang diterapkan orang Jerman, semua produk berlabel made in Germany lebih dicari konsumen ketimbang produksi negara lain yang dilakukan secara massal. Nggak heran deh, label “made in Germany” sendiri diperkirakan bernilai lebih dari 100 miliar euro. Luar biasa ya.

Tapi, tingginya standar yang ditetapkan di Jerman bukan berarti kerja di sini bak kerja rodi lho! Jerman mengedepankan efektivitas kerja dengan memperhatikan work life balance. Durasi kerja maksimal di Jerman adalah 40 jam per minggu, atau delapan jam per hari. Lembur boleh saja, tetapi dengan syarat yang ketat. Perusahaan dilarang mempekerjakan karyawan melewati batas ketentuan. Melanggar berarti mereka melakukan eksploitasi pekerja!

Baca Juga: Work Abroad: Jangan Terkejut dengan Tingginya PPh di Malaysia

Yang saya lihat, orang Jerman sangat tepat waktu dan fokus pada pekerjaan. Jadi, sedikit banget kasus lembur. Hidup mereka tidak melulu untuk pekerjaan, tapi juga untuk kehidupan di luar kantor, seperti hobi atau kumpul bersama komunitasnya. Work life balance pada akhirnya akan mempengaruhi kinerja karyawan itu sendiri.

Pelajar Dapat Visa Pencari Kerja selama 18 Bulan

Jerman membuka lebar pintu bagi pekerja asing. (dok. pribadi)

Oh iya, saya belum cerita ya bagaimana saya bisa direkrut dengan perusahaan terakhir ini setelah lulus dari Hochschule Anhalt?

Enaknya kuliah di Jerman, mahasiswa asing tak perlu khawatir harus segera meninggalkan negara ini seusai menuntaskan pendidikan mereka karena pemerintah Jerman memberikan visa pencari kerja untuk kurun 18 bulan. Pada momen inilah saya berburu kerja.

Untuk lebih gampang dilirik perusahaan, saya mendaftarkan diri ke agen kerja. Agen kerja juga membantu mahasiswa yang mencari part time saat liburan musim panas lho. Syaratnya, gampang.

Cukup serahkan bukti visa, surat izin kerja, nomor pajak, passport, nomor jaminan sosial, dan asuransi. Semua dokumen ini mutlak dimiliki orang asing yang berdomisili di Jerman. Setelah penyerahan berkas, lalu tentukan hari untuk wawancara. Proses wawancara nggak ribet, kamu akan ditanya jenis pekerjaan yang dicari dan durasi kerjanya.

Baca Juga: Work Abroad: Serunya Pengalaman Kuliah Sambil Kerja di Jepang!

Mudahnya proses mencari kerja di Jerman tak terlepas dari fakta Jerman tengah kekurangan tenaga kerja. Alasannya? Angka demografis Jerman buruk, artinya, angka kematian lebih tinggi ketimbang angka kelahiran. Jadi, Jerman membuka pintu mereka lebar-lebar untuk tenaga kerja asing.

Gimana, kamu tertarik bekerja di Jerman? Auf weidersehen in Deutschland! Sampai jumpa di Jerman!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here