Benarkah Milenial Suka Resign? Tenang Dulu, Begini Penjelasannya!

Anggapan milenial suka resign rasanya sudah dianggap hal biasa. Dibandingkan para generasi pendahulunya, generasi milenial memang terkesan suka menjadi kutu loncat. Namun, apakah milenial suka resign adalah pertanda hal buruk? Belum tentu, begini penjelasannya!

Meski Milenial Suka Resign, Sesungguhnya Mereka Hanya Mengejar Kesempatan Lebih Baik

Sekilas milenial terkesan terlalu mudah berpindah tempat kerja. Namun, ada hal lain yang melatarbelakangi milenial begitu cepat berpindah kerja dalam kurun waktu kurang lebih lima tahun. Ya, pada dasarnya mereka hanya mencari kesempatan lebih baik.

Para generasi tua beranggapan bahwa ketekunan dan loyalitas adalah cara terbaik meraih kesuksesan. Sementara bagi milenial, kesempatan belajar dan berkembang jauh lebih penting daripada sekadar “posisi aman”.

Oleh sebab itu, milenial cenderung terkesan lebih mudah pindah kerja, padahal sebenarnya mereka mengejar belajar hal lain lebih cepat.

Baca Juga: Milenial, Jangan Mau Dicap “Kutu Loncat”!

Milenial Butuh Tempat yang Benar-Benar Membuatnya Berkembang

Apabila tempat bekerja kurang memberi kesempatan bagi milenial untuk lebih berkembang, maka bisa dipastikan orang tersebut memilih keluar.

Milenial suka resign biasanya didorong oleh perasaan ingin berkembang alias tidak stuck. Pekerjaan yang terlalu monoton bertahun-tahun dapat membuat mereka bosan.

Tiap tempat kerja tentu punya perkembangan kerja yang berbeda-beda. Itu sebabnya, milenial merasa butuh tempat yang sesuai dengan kebutuhannya. Terkesan kutu loncat, padahal hanya ingin menemukan tempat yang tepat.

Sering Tidak Satu Visi dengan Perusahaan Menjadi Alasan Milenial Suka Resign

Perusahaan yang terlalu sering mengubah kebijakan kadang menjadi hal yang kurang disukai milenial. Meski terkesan santai, pada dasarnya milenial juga lebih sesuatu yang bersifat pasti. Oleh sebab itu, kesamaan visi menjadi kunci penting bertahan atau tidaknya seorang milenial di tempat kerja.

Daripada harus memaksakan diri bertahan pada tempat yang sudah sulit berjalan dalam satu pemikiran, milenial lebih suka mengundurkan diri. Bagaimana pun juga anak milenial juga butuh kenyamanan dalam bekerja. Kalau sulit untuk sejalan, buat apa dilanjutkan?

Perusahaan yang Terlalu “Kaku” Kadang Tidak Cocok dengan Milenial

Di sisi lain, perusahaan yang terlalu ketat dalam menerapkan aturan kadang membuat sebagian anak milenial menjadi jengah. Tidak bisa dipungkiri kalau anak milenial lebih suka sesuatu yang bersifat fleksibel. Jadi, kalau perusahaan terlalu “kaku”, anak milenial pun makin enggan bekerja dengan nyaman.

Milenial suka resign ketika tempatnya bekerja tidak memberikan ruang dan kesempatan yang cukup bagi anak muda. Sistem senior dan junior yang kental hanya dapat mematikan potensi para milenial.

Jadi, milenial suka resign ternyata ada alasan logisnya ya. Rasanya tidak pas jika label kutu loncat harus selalu identik dengan milenial.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here