Dari “Nol” Jadi Trainer, Shelloren: Belajar Data Science Harus Tekun

Shelloren, Instruktur Data Scientist Algoritma. (FOTO: dok. pribadi)

Bagi Shelloren “banting stir” karier patut dilakukan demi kesuksesan di masa depan, meski dalam perjalanannya harus “berdarah-darah”. Instruktur Data Scientist ini mengaku proses belajar data science yang ia jalani tak mudah. Maklum, Shelloren belajar dari “nol” mengenai data science, setelah ia lulus dari jurusan bisnis dan managemen.

Ketakutan untuk beralih karier wajar saja dialami mereka yang tengah bimbang dengan masa depan kariernya. Terlebih bagi kalangan fresh graduate yang kesulitan mendapatkan pekerjaan pasca lulus dari bangku kuliah. 

Perkembangan industri bisnis yang cepat dan agile turut menjadi tantangan tersendiri bagi para peniti karier muda. Di era industri 4.0, bahkan segera menuju industri 5.0, para pelaku bisnis gencar mencari talenta-talenta yang fasih tentang teknologi dan pengolahan data. Lalu, bagaimana nasib dengan fresh graduate yang bukan lulusan teknologi atau statistika?

Kondisi ini yang mendorong Shelloren untuk menantang dirinya beralih dari bisnis dan manajemen ke data science. Tantangan yang ia ambil jelas berat. Ilmu data science menuntut dirinya untuk memelajari bahasa pemrograman dan statistika data. Padahal, Shelloren lebih kuat di bidang manajemen, terutama yang terkait dengan human resource.

Baca Juga: SheLovesData Merangkul Kaum Wanita untuk Belajar Mengolah Data

Namun, kesulitan tersebut tak meruntuhkan niatnya belajar data science. Apalagi Shelloren menyadari Data Scientist banyak diklaim sebagai pekerjaan yang paling dibutuhkan di industri bisnis saat ini. Modal nekad untuk mendapatkan jenjang karier yang lebih baik memicunya untuk berkutat dengan teori-teori data science.

“Ibaratnya aku belajar sampai muntah-muntah. Latar belakang aku bisnis manajemen, aku anak HR tapi dikasih tentang data. Tapi, I have to work, or I starve. Menurut aku yang terpenting itu niat. Apakah belajar data science akan memberikan value yang lebih ke depan? Kalau iya, relakan saja belajar apapun awalnya pasti susah,” bilang Shelloren kepada Job-Like Magazine.

“Ketika belajar, aku anak HR yang dikasih programming, dikasih data. Awalnya aku kaget. Aku harus belajar statistika, programming, dan business expertise yang aku dalami, yaitu HR. Tapi lama kelamaan aku terbiasa. Kita harus terima awalnya menjadi stupid people, sebelum nanti menjadi ahlinya. Belajar harus persistent,” lanjutnya.

“Aku merasa kalau aku nggak belajar hard skill, ya karier di dunia kerja akan begitu-begitu saja. Jadi aku kepikiran hard skill yang bisa dipelajari dan berguna kedepannya. Lalu, aku baca mengenai data science. Dan ternyata ini juga relevan di bidang aku.”

Ilmu data science memang relevan dengan beragam bidang pekerjaan dan bisnis. Pasalnya, pengolahan data penting dilakukan untuk melahirkan kebijakan dan strategi bisnis. Bagi Shelloren sendiri yang memiliki latar belakang manajemen terkait human resource, data science menjadi faktor penting untuk menentukan apakah kebijakan yang diterapkan sudah sesuai.

Baca Juga: Skill Analisis Data Penting untuk Bekerja sebagai Human Resource Handal

Menariknya, pengetahuan mengenai data science yang ia pelajari di Algoritma Data Science School, juga membukakan pintu karier baru sebagai seorang instruktur atau trainer data science. Shelloren sudah lebih dari setahun terakhir dipercaya Algoritma untuk berbagi ilmunya kepada para anak didik mereka.

“Aku sudah setahun lebih menjadi trainer di Algoritma. Awalnya saya harus mengerjakan kasus-kasus perusahaan, aku memegang data HR perusahaan-perusahaan. Lalu mulai mengajar di akademi dan membuat course production untuk perusahaan-perusahaan di Indonesia,” ujar Shelloren.

“Ada banyak kebutuhan mengenai data science. Yang bikin aku kaget justru klien kami kebanyakan perusahaan tambang di Indonesia. Ternyata mereka memegang data yang cukup banyak dan perlu bantuan untuk mengolah datanya. Perusahaan-perusahaan yang dianggap konvensional justru membutuhkan perubahan-perubahan di data science,” tuturnya.

Shelloren memberikan tips bagi para perusahaan yang sedang membenahi diri terkait data. Menurutnya, perusahaan harus memelajari tools yang digunakan untuk pengolahan data dan mengetahui fokus pengolahan datanya. Apakah data science diterapkan untuk melakukan analisa data, atau visualisasi data? Dengan demikian, langkah pengolahan data yang diambil akan mengenai sasaran.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here