SheLovesData Merangkul Kaum Wanita untuk Belajar Mengolah Data

Jana Marlé-Zizková, Co-founder SheLovesData. (Foto: Mega.Fransisca/Job-Like Magazine)

Data analyst dan data scientist menjadi profesi yang paling banyak diburu di era digital ini. Bertebarannya perusahaan rintisan berbasis teknologi mendorong pertumbuhan akan kebutuhan talenta yang mampu mengolah data untuk digunakan sebagai landasan melahirkan kebijakan atau langkah strategi bisnis.

Kamu patut was-was akan kesulitan mendapatkan posisi kerja dalam lima tahun ke depan bila kamu tidak memiliki pengetahuan dan keahlian mengenai data science. Nah, lho!

Ya, sebegitu krusialnya memang mengolah data di dalam dunia bisnis yang semakin digital dan agile ini. Ironisnya, masih banyak peniti karier yang belum sadar akan hal ini, terutama kaum wanita.

Dan kebanyakan dari mereka merasa kecil hati untuk mempelajari data science yang memiliki imej rumit dan butuh kemampuan logika yang tinggi. Padahal, “bermain” dengan data tidak serumit yang dibayangkan kebanyakan orang.

Co-founder SheLovesData, Jana Marlé-Zizková, pun merangkul kaum hawa untuk mengenal dan “bersahabat” dengan data melalui acara seminar dan workshop yang ia adakan di beberapa negara di Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Kepada Job-Like Magazine, Jana mengkhususkan fokusnya kepada wanita karena  sebagai praktisi IT selama puluhan tahun, ia jarang melihat sosok wanita di dunia IT.

Profesi IT selama ini didominasi oleh pria, padahal mengolah data menjadi elemen penting di setiap profesi yang emban semua orang tanpa melihat jenis kelamin.

Baca Juga: Apa Sih Data Analytics, Profesi Kerja yang Semakin Dicari Startup

“Kita butuh lebih banyak wanita karena ketika berurusan dengan data dan teknologi maka dibutuhkan grup yang beragam agar hasilnya pun lebih baik. Dengan keragaman ini, pola pikirnya pun berbeda ketika memecahkan masalah, itu akan memengaruhi hasil yang berbeda,” ujar Jana. 

“Kamu tak perlu berada di bisnis IT karena data ada di manapun. Sebagai jurnalis, kamu pasti melakukan riset data, atau direktur finansial, atau HR, semua membutuhkan data. Apapun profesi kamu, data terlibat di dalamnya. Oleh karena itu, kamu harus merangkul data, kamu harus berpikir positif dan mempelajarinya,” ujar Jana.

Jana: Tanpa Keahlian Mengelola Data, Pencari Kerja akan Kesulitan

Jana dan rekannya, Pavel Bulowski, mendirikan SheLovesData sejak tiga tahun lalu di Singapura sebagai komunitas non-profit. Melalui sekitar 80 pertemuan mengenai data dan teknologi yang telah digelar SheLovesData, perlahan semakin banyak wanita mulai terjun ke dunia teknologi. Indonesia pun menjadi bagian dari SheLovesData sejak 1,5 tahun silam.

Sebagai komunitas non-profit yang dikelola oleh para volunteer, SheLovesData tak hanya berbagi ilmu mengenai dunia teknologi, melainkan juga menjadi wadah networking bagi peniti karier wanita. 

“Program kami untuk semua orang dan gratis. Para volunteer punya pekerjaan masing-masing dan membantu di waktu luang mereka, tapi menurut kami penting untuk membangun network bagi wanita, agar bisa belajar hal baru, menemukan peluang kerja, membantu karier satu sama lain,” bilang Jana.

“Para wanita mulai berpikir berbeda, dan ingin belajar banyak mengenai teknologi. Dan kita harus mendorong semua orang untuk menggunakan data agar pekerjaannya menjadi lebih baik. Kalau kamu tidak mulai mempelajari data, kamu tidak akan mendapatkan pekerjaan dalam 5 tahun ke depan. Kamu harus mengerek dirimu,” jelasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here