Kenali Pentingnya Melakukan Presentasi Visual Storytelling

Data hanya kumpulan angka hingga data-data tersebut divisualisasikan dalam sebuah cerita. Melalui visual berbentuk gambar ilustrasi, foto, atau video, proses penyampaian data-data yang kompleks akan menjadi lebih sederhana. Kekuatan visual storytelling ini dipaparkan Danajaya Perera, Design Lead (Experience Design), dalam webinar Visual Storytelling yang digelar Agile Circle Indonesia, The Corporate Startup, dan didukung Job-Like Magazine pada beberapa hari silam.

Menurut Danajaya, penyampaian informasi secara visual akan lebih efektif untuk dicerna oleh audiens dibandingkan informasi yang memuat kalimat-kalimat. Ini dikarenakan otak manusia menangkap lebih banyak informasi visual dibandingkan dengan teks. Melalui visual, manusia  lebih mudah memahami informasi yang kompleks. Itu sebab, visual storytelling menjadi strategi jitu dalam sebuah bisnis.

Dengan memaparkan cerita yang divisualisasikan, Danajaya menjelaskan setidaknya dua keuntungan yang bisa dibangun atau diraih. Pertama, terbangunnya interaksi dengan audiens atau anggota tim melalui visual yang menarik perhatian. Kedua, penyampaian secara visual akan membangun komunikasi argumen yang menyakinkan. Pasalnya, visual storytelling menyederhanakan informasi kompleks yang mampu dipahami oleh target audiens. 

Baca Juga: Mau Sukses Terapkan Business Agility? Ini Faktor-Faktor Pentingnya

Visual storytelling penting untuk diterapkan dalam bisnis, maupun proses kerja di kantor. Terlebih ketika melakukan presentasi kepada manajemen. Visual storytelling akan menyederhanakan ide atau poin yang ingin kamu sampaikan. Penting juga untuk menyertakan data atau angka karena tentu pihak manajemen sangat peduli pada data,” ujar Danajaya.

“Lalu, apakah membuat visual storytelling itu rumit? Mungkin terdengar rumit karena harus mentransformasi kalimat menjadi gambar ilustrasi. Tapi, sejatinya kita semua bisa menggambar seperti yang sudah kita lakukan ketika masih kanak-kanak. Jangan bayangkan kamu harus menggambar ilustrasi yang kompleks. Gambar yang sederhana sudah cukup asal mencakup informasi yang ingin disampaikan,” tuturnya.

Visual Storytelling Bukan Mengenai Ilustrasi Gambar yang Menarik, tapi Bagaimana Menyederhanakan Informasi yang Kompleks

Dalam webinar yang berjalan hampir dua jam itu, Danajaya mengajak para peserta untuk kembali membangun memori masa kecil mereka dalam menggambar. Ini dilakukan Danajaya untuk menunjukkan bahwa membuat visual storytelling bisa dilakukan oleh semua orang meski ia bukan seorang ahli ilustrusi.

Danajaya mengajak para peserta untuk menyiapkan selembar kertas dan alat tulis, lalu mengikuti instruksi gambar kehidupan sehari-hari yang ia berikan untuk divisualisasikan secara sederhana. Setelah para peserta merasakan kembali sensasi menggambar, ia memberikan sebuah cerita pendek untuk divisualisasikan oleh para peserta, lalu masing-masing mempresentasikannya.

“Tidak ada limit seberapa banyak visual yang harus ditampilkan dalam sebuah presentasi. Visual storytelling bukan menampilkan presentasi yang cantik, tetapi menyampaikan ide dengan sederhana dan mudah dipahami responden. Visualisasikan ide dengan informasi yang cukup, yaitu mencakup data sehingga presentasi yang dipaparkan tidak rumit,” ujarnya. 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here