Founder Kokumi Akui Ciptakan Kokumi di Momen Tersulit dalam Hidupnya

Jacqueline Karina, Founder & CEO Kokumi, berprinsip untuk menebarkan kebahagiaan melalui Kokumi. (FOTO: Job-Like Magazine/Mega.Fransisca)

Keterpurukan bukan momen yang harus ditangisi. Sebaliknya, keterpurukan sepatutnya menjadi lecut untuk menggapai tali sukses. Di momen keterpurukan yang menderanya, Jacqueline Karina Karina mampu bangkit menuju tangga suksesnya dengan mendirikan Kokumi, produk minuman boba. Ya, alih-alih terus terpuruk, Founder Kokumi ini justru terpacu untuk menebarkan kebahagiaan.

Kokumi disebut Jacqueline lahir dengan misi menebarkan kebahagiaan. Misi ini digaungkannya bukan sekadar atas dasar pengalaman pahit dalam hidupnya, tetapi juga hasil dari risetnya di kalangan generasi muda Indonesia. Jacqueline menyadari polemik hidup yang dialami generasi milenial saat ini bukan lagi perihal kebutuhan premier, melainkan kepuasan jasmani.

Kecepatan perkembangan teknologi dan tren media sosial menjadi pemantik polemik mental generasi milenial. Tuntutan untuk mendapatkan pengakuan dari publik melalui media sosial telah menggerus kepercayaan diri dan kebahagiaan generasi milenial. Alhasil, polemik mental seperti rasa kesepian dan takut mulai muncul.

Melihat kondisi minor ini, Jacqueline memberanikan diri untuk terjun sebagai entreprenuer di bidang minuman. Ia melahirkan Kokumi yang mempresentasikan kebahagiaan yang tak hanya bisa dikecap melalui beragam rasa minuman bobanya, namun juga melalui motivasi yang ia gaungnya melalui kemasan produk dan tokonya.

“Konsep Kokumi adalah happiness, tapi latar belakang Kokumi bukan dari happiness lho. Saya menciptakan Kokumi ketika tengah berada di bottom of my life, di saat-saat tersulit dalam hidup saya. Ketika itu saya mau create sesuatu yang happy,” bilang Jacqueline kepada Job-Like Magazine.

“Saya mau menunjukkan memang hidup itu berat, tetapi kita bisa melakukan sesuatu yang happy dan positif. Ketika kita merasakan pain, jangan balas dengan pain. Saya ingin memberikan nilai positive thinking kepada anak muda. Saya sempat market research ke anak-anak muda, dan happy bagi mereka adalah smile, good relationship, flower, ice cream, dan good smell. Tidak ada yang menjawab uang,” lanjutnya.

Baca Juga: Melepaskan Status Wanita Karier, Ini Self Discovery Co-Founder eDaun

Jacqueline Karina: “Produk akan Sukses Bila Ada Soul dalam Brand

Itu sebabnya, Kokumi hadir dengan kemasan unik yang memberikan nuansa senang dan menguatkan orang lain melalui kutipan-kutipan motivasi dalam produknya. Konsep unik ini memang sengaja diusung Jacqueline untuk membangun brand yang kuat di mata konsumen. Ia menegaskan dengan brand yang kuat maka produk bisa dikatakan sukses.

“Kita harus berbeda dari yang lain. Brand harus memiliki soul sehingga bisa bertahan lama. Kalau hanya copycat mengikuti tren tidak akan bertahan lama. Karena setiap brand yang sukses pasti akan ditiru. Resep Kokumi bisa ditiru orang lain, tapi ada yang tidak bisa ditiru, yaitu personality dan story-nya,” tutur Jacqueline.

“Itu yang ingin aku ajari ke anak-anak muda. Have your strong personality, have your strong branding, have your strong story behind it.”

Kesuksesan Jacqueline membangun Kokumi sebagai salah satu produk miniman boba popular di Indonesia tidak terlepas berkat asam garamnya di dunia food and beverage (f&b). Sebelum memutuskan untuk menjadi entrepreneur, Jacqueline bekerja sebagai Marketing Coordinator dan Business Manager dengan total pengalaman 12 tahun.

Meski telah menjala pengalaman di dalam dan luar negeri, Jacqueline tak berhenti belajar mengenai bisnis dan marketing untuk mengembangkan Kokumi. Sebagai CEO Kokumi, ia juga terus mengali ilmu untuk menjadi leader yang baik bagi para karyawannya.

“Saya menjalani proses kepemimpinan. Saya tidak langsung menjadi good leader. Banyak momen ketika saya adalah bad leader. Saya belajar ternyata saya harus mendengarkan anak-anak buah saya yang kebanyakan milenial dan gen Z. Mereka memiliki cara pandang dan pola pikir yang berbeda,” kata Jacqueline.

“Mereka tidak akan mendengarkan kalau saya marah-marah. Saya harus mendengarkan dulu apa yang mereka butuh dan mau. Setelah itu pelan-pelan saya bagi pengalaman saya yang belum sempurna juga karena masih proses pembelajaran.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here