Lanjut Kuliah ke Prancis? Perhatikan Dulu Persiapan Studinya

Founders Study France Naila Ardina (kiri), Rahmad Warisno (tengah), dan Ridho Alamanda (kanan)

Billy, Farah, dan Dimas mungkin segelintir dari ribuan siswa di Indonesia, yang memiliki cita-cita meneruskan pendidikan tingkat tinggi di luar negeri.

Prancis menjadi negara yang dipilih oleh keduanya. Saya bertemu mereka di sebuah lembaga persiapan studi ke Prancis, Billy dan Farah masing-masing mengungkapkan pendapatnya.

Kenapa memilih Prancis sebagai negara untuk melanjutkan studi?

“Kalau dibandingkan dengan kuliah di Indonesia, biaya kuliah di Prancis itu cenderung murah. Biayanya tidak jauh beda jika kita kuliah di Indonesia. Selain itu, Prancis juga lebih terbuka dengan berbagai latar belakang. Baik lulusan SMA atau SMK di sini, bisa meneruskan kuliah di Prancis,” tutur Farah selepas kelas.

“Biaya kuliahnya yang murah bukan berarti ecek-ecek ya. Di sana pemerintah memberikan subsidi pendidikan dan sejauh ini Prancis menjadi salah satu negara yang memiliki sistem pendidikan terbaik di dunia,” Billy menambahkan.

Ya, penguasaan bahasa asing memang menjadi hal yang penting jika kamu ingin melanjutkan studi ke luar negeri. Bahasa Prancis merupakan bahasa terpenting dari kelompok bahasa Roman, setelah bahasa Spanyol dan Portugis. Bahasa Prancis juga merupakan bahasa kesebelas yang paling banyak dituturkan di dunia.

“Dengan mengikuti persiapan seperti ini, kita harus bisa berkomunikasi layaknya warga lokal (native). Tapi selain itu kita juga mempelajari kulturnya, sehingga kita tahu harus bagaimana ketika berinteraksi dengan orang lokal,” sambung Billy.

Dari perbincangan sore itu di lembaga persiapan studi ke Prancis Studyfrance, saya tertarik untuk ngobrol dengan pendiri lembaga pendidikan ini.

Pasalnya, ketiga pendirinya adalah seorang guru yang belum pernah memiliki pengalaman mengelola bisnis pendidikan. Ide apa yang membuat mereka mendirikan lembaga persiapan studi ke Prancis ?

Baca Juga: Hindari 3 Kesalahan Fatal Ketika Ingin Berkuliah ke Luar Negeri

Foto: Kiky.Waode/Job-Like Magazine

Tiga Orang Guru Merintis Bisnis di Bidang Pendidikan

Pengalaman mengajar yang dialami oleh Naila, Rahmad, dan Ridho, mendorong mereka untuk mendirikan lembaga persiapan studi ke Prancis di awal tahun 2019.

Bermodalkan nekat dan dana dari investor, Naila, salah satu founder Studyfrance mengajak kedua sahabatnya untuk membuka bisnis pendidikan. Sejak awal, dia tahu ini tidak akan mudah.

Apalagi alumnus Universitas Negeri Jakarta ini tidak pernah menjalankan bisnis apapun sebelumnya. Begitu pun dengan kedua rekannya, Rahmad dan Ridho.

“Berbekal pengalaman mengajar di Institut Français d’Indonésie dan sebuah lembaga persiapan studi ke Prancis lainnya, itu yang membuat saya bermimpi mau mendirikan lembaga persiapan studi yang serupa, untuk membantu siswa Indonesia agar bisa merasakan asyiknya kuliah di Prancis,” kata Naila.

Naila memiliki ketertarikan dengan negara Prancis, sejak masih duduk di bangku SMA. Ia menempuh pendidikan bahasa Prancis di Universitas Negeri Jakarta dan mengikuti pelatihan bahasa Prancis Atelier Pédagogique Personnalisé di Bayonne, Prancis.

Naila Ardina, Founder Studyfrance (Foto: Kiky.Waode/Job-Like Magazine)

“Kenapa saya memilih untuk belajar bahasa Prancis? Motivasi awalnya supaya saya bisa jalan-jalan ke luar negeri hahaha. Saat itu, saya berpikir kalau kita menguasai bahasa asing selain bahasa Inggris, kesempatan untuk bepergian ke luar negeri pasti lebih banyak. Banyak orang yang akan membutuhkan tenaga guru bahasa asing,” lanjutnya.

Menjadi seorang guru merupakan hiburan tersendiri bagi Naila. Setiap hari, ia bisa bertemu dengan puluhan orang berbeda. Ia menganggap guru sebagai profesi yang tidak pernah membosankan.

“Seru aja ketemu dengan banyak orang yang berbeda setiap hari, jadi meskipun mengajar di kelas pasti itu nggak akan terasa. Menjadi guru bukan berarti saya yang memberikan wawasan, tetapi sering juga justru saya yang mendapat wawasan dari murid-murid yang saya ajar.”

Mei 2019, Studyfrance yang ia dirikan mulai menerima siswa baru. Studyfrance memfasilitasi siswa yang ingin melanjutkan studi ke Prancis dengan program super intensif selama satu tahun.

“Kami pernah menjadi mahasiswa di Prancis, meskipun hanya sebatas kursus. Saya sendiri menempuh pendidikan S2 di Universitas Sorbonne Paris. Jadi, kami tahu kondisi kuliah di Prancis itu seperti apa. Melalui Studyfrance ini, kami ingin berbagi pengalaman ke teman-teman lainnya yang mau kuliah ke Prancis,” kata Rahmad, co-founder dan pengajar Studyfrance.

Rahmad Warisno ketika sedang mengajar bahasa Prancis (Foto: Kiky.Waode/Job-Like Magazine)

Dalam setiap sesi pembelajaran, Rahmad memberikan materi bahasa Prancis khusus untuk tujuan akademis. Sehingga ketika para siswa ini mulai berkuliah di Prancis, mereka tidak kesulitan untuk memahami kosa kata yang biasa digunakan dalam perkuliahan.

Rahmad juga mendorong siswanya untuk belajar budaya dan nilai-nilai orang Prancis.

“Orang Indonesia bisa belajar bagaimana orang Prancis hidup, berpikir, dan berinteraksi dengan orang lain. Menurut saya, ini penting banget sih buat anak-anak muda agar lebih terbuka terhadap pandangan global,” lanjut Rahmad.

Hal yang memuaskan batin ketiga guru ini, bukan hanya ketika melihat para siswa mahir berbahasa Prancis. Mereka juga berharap, para siswa bisa menangkap dan menerapkan nilai-nilai positif yang bisa mereka dapatkan dengan berinteraksi langsung dengan orang lokal.

“Salah satu tujuan dari belajar bahasa Prancis, yaitu kami juga ingin mengajarkan nilai-nilai mengenai keterbukaan, toleransi, empati, dan nilai positif lainnya. Jadi, kepuasan bagi kami kalau nilai-nilai tersebut bisa mereka terapkan,” tambah Ridho.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here