Sasar Masyarakat Melek Digital, PrivyID Siap Ekspansi ke Australia

Sasar Masyarakat Melek Digital, PrivyID Siap Ekspansi ke Australia
PrivyID Persiapkan Diri Ekspansi ke Australia

Sebagai perusahaan yang menyediakan jasa pembuatan tanda tangan elektronik, PrivyID kini sudah memiliki 3,7 juta pelanggan individu dan 172 pelanggan dari korporasi. Dalam waktu tiga tahun, PrivyID semakin menegaskan keberadaannya sebagai pihak ketiga bagi individu, perbankan, maupun perusahaan yang membutuhkan tanda tangan elektronik guna memudahkan transaksi bisnis.

Tanda tangan elektronik sebenarnya bukan sesuatu hal yang baru di Indonesia. Regulasi penggunaan tanda tangan elektronik telah diatur dalam Undang-Undang ITE No.11 tahun 2008 perihal informasi dan transaksi elektronik. Di balik penggunaannya yang semakin meningkat, Marshall Pribadi selaku CEO PrivyID menyatakan ada beberapa hal yang menjadi keunggulan penggunaan tanda tangan elektronik.

Di antaranya kecepatan dalam melakukan transaksi bisnis, menekan biaya percetakan, serta pengarsipan dokumen yang lebih terjamin. Selain itu, tanda tangan elektronik juga dipercaya mampu menekan angka pencemaran lingkungan karena penebangan hutan.

“70 persen penggunaan kertas berakhir di tempat sampah, belum lagi karbon dioksida yang dihasilkan dari limbah penebangan hutan. Sehingga, penggunaan tanda tangan elektronik turut menekan tingkat kerusakan lingkungan,” jelas Marshall ketika ditemui Job-Like Magazine di kantor PrivyID di bilangan Kemang, Jakarta Selatan.

Namun, perjalanan PrivyID dalam memasyarakatkan tanda tangan elektronik tidak semudah kelihatannya. Perlu waktu untuk meyakinkan masyarakat Indonesia akan legalitas tanda tangan elektronik. Terlebih, sebagian besar masyarakat Indonesia masih belum cukup baik dalam mendapatkan edukasi tentang literasi digital.

Edukasi terus dilakukan PrivyID bekerja sama dengan berbagai institusi, untuk mengenalkan pentingnya tanda tangan elektronik di era yang telah memasuki revolusi industri 5.0 ini.

“Tanda tangan elektronik merupakan hal yang kompleks, modalnya mahal, dan harus memiliki public infrastructure yang baik. Beruntung selama ini banyak media dan institusi untuk melakukan diskusi dan seminar terkait tanda tangan elektronik. Dari kegiatan ini masyarakat mulai mengenal tanda tangan digital,” kata Marshall.

Baca Juga: CEO PrivyID Kasih Kesempatan Karyawan Jadi CEO Shadow

Sasar Negara Maju, PrivyID Siap Ekspansi ke Australia

Saat ini PrivyID tengah menyiapkan rencana ekspansi ke Australia untuk memperluas pangsa pasar tanda tangan elektronik. Menyasar masyarakat yang sudah cukup memahami literasi digital, Marshall menyebutnya ini sebagai ajang untuk melakukan pengukuran dampak terhadap keberhasilan pengguna tanda tangan elektronik di negara maju.

“Saat ini persiapan yang sedang dilakukan yaitu menerjemahkan user interface aplikasi kami ke Bahasa Inggris, begitu pun dengan kebijakan-kebijakannya masih dalam tahap penerjemahan. Langkah selanjutnya, kami harus set-up storage data center untuk menampung data pribadi warga Australia agar tetap berada di negaranya,” jelas Marshall.

Kenapa memilih Australia?

“Karena Australia merupakan salah satu negara maju yang dekat dari Indonesia secara geografis. Kemudian, kalau dilihat masyarakatnya cenderung lebih memahami literasi digital dengan baik. Jika di Indonesia, pengguna tanda tangan elektronik masih ada yang kesulitan mengoperasikan e-mail , kami mengira di Australia masalah seperti ini tidak ada. Sehingga, kalau hasilnya bagus bukan tidak mungkin kami akan ekspansi ke lebih banyak negara maju,” tegas Marshall.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here