Menciptakan Program AI, Ternyata Tak Serumit yang Kamu Kira!

Agile Circle Indonesia menggelar meetup belajar mengenal Artificial Intelligent. (Foto: dok. Agile Circle Indonesia)

Gaung Artificial Intelligent (AI) semakin kencang seiring berlangsungnya revolusi industri 4.0. Kekhawatiran manusia akan kehilangan pekerjaan yang diambil alih oleh AI pun meningkat.

Padahal nih, AI bukanlah musuh manusia. AI hanyalah kecerdasan buatan yang meniru kecerdasan manusia, dan bisa dikendalikan oleh manusia.

Ya, AI bisa dikendalikan oleh manusia karena manusialah yang membentuk AI. Kecerdasan buatan dibentuk oleh manusia melalui pemrograman dan pelatihan terus menerus hingga sistem yang dibentuk menemukan jawaban atau tindakan yang menyerupai kecerdasan manusia.

Budi Santoso Alex, Certified DevOps Trainer dari NaradaCode. (Foto: dok. Agile Circle Indonesia)

Namun, menurut Budi Santoso Alex, selaku Certified DevOps Trainer dari NaradaCode, jawaban yang dihasilkan AI belum tentu akurat 100 persen layaknya hasil buah pemikiran manusia. Pasalnya, pola kerja kecerdasan buatan adalah sebuah prediksi.

Hal ini ditegaskan Budi ketika mengisi meetup yang diadakan oleh Agile Circle Indonesia dengan topik “An Introduction to AI/ML”, Rabu (9/7). Meetup membahas dunia teknologi ini merupakan program rutin yang digelar Agile Circle Indonesia. Di hadapan 100 peserta dari pelbagai kalangan ini, Budi menjelaskan potensi penggunaan dan pelatihan dari sebuah AI.

Kecerdasan buatan yang dihasilkan oleh sistem pemrograman memang berpotensi besar, mulai dengan menyediakan personalized suggestion hingga identifikasi gambar. Bahkan, sebuah perusahaan di Jepang telah menggunakan AI untuk mengklasifikasikan ukuran hasil panen timun.

Baca Juga: Co-Founder Nodeflux: AI Bisa Memberikan Solusi untuk Masyarakat

Nah, Bagaimana Proses Terbentuknya Sebuah Kecerdasan Buatan? 

“Jelas bukan karena magis,” tegas Budi. 

Sebelum tercipta sebuah produk dengan kecerdasan yang menyerupai kecerdasan manusia, diperlukan data, bahasa pemrograman, dan pelatihan.

Budi menjelaskan proses pembentukan kecerdasan buatan tidaklah serumit yang dibayangkan. Hanya saja membutuhkan data yang kompleks dan ketekunan untuk melatih programnya.

Misal, untuk menciptakan AI yang bisa mengidentifikasi gambar seekor kucing, maka komputer atau sistem harus dilatih untuk melihat ragam jenis kucing yang sudah dikelompokkan dalam sebuah bahasa pemprograman. Sehingga pada akhirnya, sistem merekam semua gambar kucing untuk diidentifikasikan sebagai kucing.

Ya, setelah terus menerus dilatih untuk memasangkan gambar dengan namanya, komputer akan semakin cerdas. Namun, sekali lagi, Budi mengingatkan bahwa kemampuan sistem untuk meniru kecerdasan manusia tidak akan 100 persen sama. Untuk mendapatkan hasil dengan akurasi yang tinggi, maka data yang dibutuhkan pun semakin banyak untuk direkam oleh sistem. 

Pada meetup Agile Circle Indonesia ini, Budi juga menjelaskan modal dasar untuk melahirkan produk kecerdasan buatan adalah memiliki kemampuan bahasa program. Python menjadi bahasa pemrograman yang direkomendasikan, terutama bagi programmer pemula.

Bahasa Python diklaim menggabungkan kapabilitas, kemampuan, dengan sintaksis kode yang jelas. Artinya, Python merupakan bahasa pemrograman yang multi paradigma.

Jadi, buat kamu yang tertarik belajar AI, perdalam dulu nih kemampuan bahasa pemrograman kamu. Semoga sukses ya!

Dan buat kamu yang tertarik belajar lebih banyak mengenai perkembangan dunia bisnis digital, kamu bisa ikuti meetup Agile Circle Indonesia berikutnya, Rabu (17/7), mendatang di kantor Kompas Gramedia, dengan topik “A Corporate Transformation Journey, and Where Does Growth Come From”.

Atau, kamu juga bisa gabung dengan Telegram Group Agile Circle Indonesia di https://t.me/agilecircleid.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here