Jurus Generali Cegah Penyebaran COVID-19 di Masa New Normal

Generali Indonesia secara berkelanjutan mengkampanyekan hidup sehat dan bersih untuk cegah penyebaran COVID-19. (FOTO: dok. Generali Indonesia)

Data medis menyebut 80 persen pasien positif terjangkit virus COVID-19 berawal dari kasus ringan atau tanpa gejala COVID-19. Hanya lima persen yang positif virus COVID-19 dinyatakan sebagai kasus berat. Mirisnya, sebanyak 113.134 orang positif terpapar virus di Indonesia menurut data Satuan Tugas Penanganan COVID-19, per 3 Agustus 2020. Kondisi ini terus mendorong Generali Indonesia secara berkelanjutan mengkampanyekan hidup sehat dan bersih untuk cegah penyebaran COVID-19 ini.

Generali menganjurkan para karyawannya untuk tetap bekerja dari rumah meskipun periode Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) telah berakhir. Kebijakan ini diambil untuk mencegah penyebaran virus dengan meminimalisir aktivitas di kantor pada masa transisi new normal.

Untuk melindungi nasabah dan karyawan, Generali juga masih memberlakukan layanan nasabah secara online. Khusus bagi karyawan yang ternyata harus bekerja di kantor pada waktu tertentu pun harus melewati proses screening kesehatan.

Untuk menjamin kesehatan seluruh karyawannya, Generali juga menerapkan protokol kerja new normal selama di kantor. Salah satunya, dengan pengecekan suhu baik ketika masuk ke dalam gedung, maupun ketika sedang bekerja di area kantor, serta menjaga jarak antarrekan kerja.

Oleh karena itu, kapasitas ruang kerja yang digunakan hanya 50 persen, dan rapat internal hanya boleh diikuti maksimal empat peserta. Karyawn Generali diwajibkan untuk menjaga kebersihan diri dan area kerja selama di kantor, serta tidak menggunakan transportasi umum jika harus ke kantor untuk sementara waktu.

Baca Juga: Saatnya Anak Muda Berbagi Kebaikan Sambil Rebahan di akuberbagi.com

Kampanye hidup sehat juga digaungkan Generali dengan mengajak dr. Nico Iswanto Pantoro, Dokter Umum RS Columbia Asia Pulomas meningkatkan kembali kewaspadaan masyarakat akan paparan virus COVID-19 melalui GenTalks dengan tema “Trending Penyakit Selama Pandemi”. Dokter Nico menegaskan fakta bahwa kebanyakan pasien positif tidak menyadari dirinya telah terinfeksi virus COVID-19 karena tidak merasakan gejala.

Faktor lain yang menjadi pemicu kasus positif COVID-19 cukup tinggi di Indonesia adalah kurangnya kesadaran penderita penyakit komorbiditas untuk menjaga daya tahan tubuhnya. Apa itu penyakit komorbiditas? Penyakit komorbiditas adalah penyakit bawaan seperti diabetes, obesitas, hipertensi, imunodefisiensi, dan autoimun yang akan menurunkan daya tahan tubuh bila tidak dikontrol.

Ketika imunitas tubuh melemah, peluang virus COVID-19 menyerang tubuh semakin besar. Untuk cegah penyebaran virus, pemeriksaan berkala dan rutin mengkonsumsi obat harus dilakukan oleh penderita penyakit komorbiditas. Generali memberikan kemudahan untuk melakukan pemeriksaan berkala tanpa harus mengunjungi dokter di rumah sakit.

Aplikasi Dokter Leo Mampu Mendeteksi Lebih dari 600 Penyakit

Melalui teknologi artificial intelligence (AI), Generali memberikan layanan telemedicine Dokter Leo bagi para nasabahnya lewat aplikasi Gen iClick. Aplikasi ini mudah diakses dimanapun dan kapanpun melalui Android dan iOS.

Cukup unduh Gen iClick, lalu klik fitur Dokter Leo, pemegang polis Generali bisa berkonsultasi secara online (video call, voice call, dan live chat) dengan dokter dari RS Siloam Group dengan mudah dan tanpa biaya. Konsultasi online ini juga bisa dimanfaatkan untuk nasabah, namun juga bisa digunakan oleh keluarga nasabah, seperti anak, pasangan, dan orangtua.

Fitur Dokter Leo yang dilengkapi dengan teknologi AI ini telah teruji secara klinis dan mampu mendeteksi hingga 600 jenis penyakit. Terobosan ini merupakan cara Generali untuk membantu pemerintah dalam mengurangi penularan COVID-19 dan membantu para tenaga medis dalam mengurangi penanganan pasien di rumah sakit.

Baca Juga: Karier atau Keluarga? Working Mom di Generali Indonesia Bisa Keduanya

Perlu diingat, penerapan pembatasan sosial juga berperan dalam mencegah penyebaran virus COVID-19. Artinya, meski telah memasuki new normal, masyarakat tetap harus menjaga jarak. Dokter Nico juga mengingatkan masyarakat untuk selalu menggunakan masker dan menjaga kebersihan tangan. 

“Tetap harus menerapkan physical distancing. Gunakan selalu masker, terutama saat sakit, dan jaga kebersihan tangan. Jangan mudah menaruh tangan ke saluran pernapasan dan jaga kebugaran tubuh dengan berolahraga, serta mengkonsumsi vitamin. Tapi mengkonsumsi vitamin terlalu banyak juga nggak bagus. Multivitamin yang mengandung vitamin C sebaiknya hanya 1-2 tablet per hari. Untuk tablet isap vitamin C 500mg cukup satu setiap 12 jam,” tuturnya.

“Untuk yang menderita diabetes, harus kontrol rutin minimal tiga bulan sekali. Penderita (komorbiditas) akan lebih mudah terinfeksi. Jika kalau tidak rutin kontrol karena tidak bisa ke rumah sakit selama pandemi, mungkin ia tidak terinfeksi COVID tetapi penyakitnya akan lebih parah. Jadi tidak ada alasan untuk tidak kontrol penyakit selama COVID, sudah bisa menggunakan telemedicine,” tandasnya.

Dokter Nico juga menyarankan masyarakat untuk tetap berpikir positif meski pandemi telah mempersempit pergerakan aktivitas selama hampir enam bulan terakhir. Tingkat stres yang berlebihan akan merusak daya tahan tubuh. Bagi mereka yang masih #DiRumahAja, disarankan untuk tetap berolahraga ringan di dalam rumah untuk menghasilkan hormon endorfin yang bisa mencegah stres. Pencegahan stres juga bisa dilakukan dengan lebih cerdas menyortir informasi yang tersebar di sosial media.

Yuk, tetap sehat selama pandemi dengan jaga kebugaran dan rutin mengontrol kesehatanmu. Mau tenang berkonsultasi dengan dokter di rumah?

Akses Dokter Leo di Gen iClick!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here