New Normal di Sekolah, Perlu Ada Protokol Kesehatan yang Jelas

Selain aktivitas bisnis dan perkantoran, fase new normal juga membuka akses kembali ke sekolah. Seperti apa pengaturan new normal di sekolah yang harus diperhatikan pihak sekolah, murid, dan orangtua agar area sekolah terbebas dari penyebaran virus COVID-19? Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) mengusulkan jam belajar hanya empat jam dan dihapusnya jam istirahat.

Menurut Asisten Deputi Perlindungan Anak dalam Situasi Darurat dan Pornografi Kemen PPPA, Ciput Eka Purwianti, dalam webinar, Kamis (28/5), ide untuk new normal ini bisa menjadi strategi untuk mencegah penularan virus COVID-19. Dengan dihilangkannya jam istirahat berarti mencegah murid-murid untuk berkerumun.

Strategi pencegahan terjadinya kerumunan juga dilontarkan Kemen PPPA dengan pengaturan jam masuk dan pulang antarkelas yang berbeda-beda. Sehingga para murid tidak berkerumun di gerbang sekolah saat tiba dan pulang. Rekomendasi Kemen PPPA ini dilontarkan dengan berkaca dari pengalaman Australia yang mengelar kembali aktivitas belajar mengajar di sekolah.

Baca Juga: Indonesia Siap Memasuki New Normal, Ini Protokol Kesehatannya

“Mereka hanya dua kelas dulu untuk uji coba, termasuk menyiapkan siswa, guru, tenaga pendidik dengan new normal ini. Kalau di Indonesia saya pikir bisa disiasati dengan diberi jeda masuknya satu jam. Jadi, masuk dan pulang tidak bersamaan sehingga tidak bertumpuk saat keluar masuk gerbang,” ujar Ciput.

“Kita coba semua ini diramu oleh tim protokol. Saat nanti diputuskan misalnya Juli atau setelah Juli kembali sekolah, ada pengaturan-pengaturan khusus,” katanya.

Untuk menyukseskan new normal di sekolah, Kemen PPPA juga merekomendasikan protokol diperbanyaknya fasilitas untuk mencuci tangan. Sekolah harus siap menyediakan sarana cuci tangan lebih banyak lagi sehingga para murid tidak perlu mengantri. Ini salah satu cara menerapkan social distancing di sekolah. 

Selain protokol beraktivitas di sekolah, Ciput menegaskan pentingnya peran orangtua dalam membekali anak-anaknya untuk beradaptasi dengan new normal di sekolah. Orangtua mengajarkan anak-anaknya untuk menggunakan masker, cuci tangan dengan sabun, dan menjaga jarak.

Tak hanya sebatas mengajarkan kebiasaan baru untuk mencegah penularan virus COVID-19, orangtua juga harus menjaga asupan nutrisi anak-anaknya. Hal ini penting untuk meningkatkan imunitas anak-anak selama beraktivitas di sekolah. 

“Orangtua mempersiapkan kembali anak-anak ke sekolah, harus mengawal, memberi pengertian pada anak pentingnya mereka gunakan masker, cuci tangan dengan sabun sesering mungkin sebelum mereka sentuh bagian muka,” tutur Ciput.

Baca Juga: Cegah Virus Corona, Ini Aturan Mencuci Pakaian Selama Pandemi

Protokol Kesehatan New Normal di Sekolah Sudah Disiapkan oleh Disdik Bandung

Sementara itu, Disdik Bandung telah menyiapkan protokol kesehatan jelang new normal di sekolah meski keputusan kembali ke sekolah belum diputuskan. Menurut Kepala Bidang (Kabid) Pembinaan Pengembangan Pendidik dan Tenaga Pendidikan (P3TK) Disdik Kota Bandung, Edy Suparjoto, ada pengaturan jam masuk dan jumlah siswa di setiap kelas. New normal di sekolah juga akan mengatur jarak antar kursi dan meja siswa.

“Diberlakukan sif. Misalnya, kelompok satu Senin masuk, kelompok dua tetap online dan selanjutnya seperti itu. Siswa juga wajib gunakan masker, tidak bersalaman, guru juga gantian masuknya. Selain itu, SD maksimal tiga jam masuknya, dan SMP empat jam,” ujar Edy.

Protokol kesehatan new normal di sekolah lainnya adalah penutupan kantin sekolah. Untuk itu, para siswa diwajibkan membawa bekal makanan dari rumah. Pihak sekolah juga harus menyediakan fasilitas cuci tangan, pengatur suhu, handsanitizer, dan penyemprotan kelas dengan disinfektan setiap dua hari sekali. 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here