Mau Resign karena Toxic di Tempat Kerja? Tunggu Dulu Guys…

Apakah kamu harus resign ketika ada toxic di tempat kerja? 

Tanyakan pertanyaan ini kepada diri kamu sebelum mengambil keputusan resign, “Apakah saya akan mendapatkan tempat kerja yang lebih menyenangkan?”.

Bila kamu tidak yakin dengan jawabannya, menurut Gesit Prasasti Alam, Scrum Master PT. XL Axiata Tbk, jangan keburu memutuskan untuk resign. Tetapi, perbaiki dulu diri kamu. Ya, meskipun kamu merasa yang toxic adalah lingkungan kerjamu, tetapi diri kamu sendiri pun harus diperbaiki.

Pastikan bahwa kamu sudah civil atau bersikap sopan di tempat kerja. Tidak toxic. Kepada peserta meetup yang diadakan Agile Circle Indonesia, Kamis (19/9), Gesit menegaskan civility atau kesopanan itu diperoleh bukan dengan memotivasi orang lain untuk bersikap sopan, tetapi mengenai apakah kamu sendiri sudah sopan.

Toxic di tempat kerja berkembang karena adanya sikap yang tidak sopan. Nahasnya, sikap tidak sopan memiliki sifat menular. Jadi, pastikan kamu belum tertular uncivility bila kamu tidak ingin pekerjaan kamu terganggu, lalu berujung anjloknya performa kamu dan perusahaan. 

Uncivility itu kasar, toxic, dan menular. Bila ada uncivility di kantor, jangan kamu lantas bilang, ‘Ah, yang penting bukan saya’. Itu berbahaya. Tanpa disadari kamu bisa menyerap sikap-sikap tidak sopan itu dan tanpa disengaja kamu menerapkannya juga,” bilang Gesit.

Ya, terkadang kamu tidak menyadari telah menyerap sikap tak sopan dan menjadi toxic di tempat kerja.

Baca Juga: Toxic Coworker Bikin Ganggu? Ini 5 Tipe dan Cara Tepat Menghadapinya

Nah, apa saja bentuk uncivility yang bisa menjadi toxic di tempat kerja?

Gesit Prasasti Alam, Scrum Master PT. XL Axiata Tbk. tegaskan buruknya kata-kata uncivil di lingkungan kerja. (Foto: Mega.Fransisca/Job-Like Magazine)

Contoh paling sederhana adalah ucapan berkonotasi negatif, seperti “Kamu bodoh”, “Emang kerjaan kamu ngapain saja sih?”, “Kamu payah”, “Itu bukan urusan kamu”, “Ini tidak adil”, “Aku tidak bisa”, atau “Ah, dia cuma beruntung”. 

Pernahkah kamu menerima kata-kata tersebut dari rekan atau atasanmu? Atau justru kamu yang pernah melontarkannya?

Perlu disadari, kata-kata negatif tersebut menunjukkan rasa tidak hormat kepada orang lain, pun diri sendiri. Imbasnya, mereka yang menelan kata-kata tersebut akan merasakan ketidakbahagiaan di kantor. Stres, sudah pasti menyerang. 

Jadi, yuk, perbaiki diri sendiri terlebih dahulu agar kondisi toxic di tempat kerja tidak berlanjut. Seperti yang dikatakan Gesit, memerbaiki kondisi toxic harus dimulai dari diri sendiri. Nggak perlu galau, caranya mudah kok. Kamu cukup tersenyum saja.

Ya, awali perbaikan diri dengan lebih banyak tersenyum. Senyuman kamu bisa berarti besar bagi orang lain. Selain itu, jangan lupa berterima kasih kepada rekan yang telah membantu pekerjaanmu.

Berterima kasih atau memberikan kredit kepada tim terutama harus dilakukan oleh kamu yang berstatus sebagai atasan. Jangan gengsi, akuilah kinerja bawahanmu. Seorang atasan juga harus bisa mendengarkan timnya.

Ada strategi mudah yang dibocorkan Gesit untuk kamu yang kesulitan mengubah kebiasaan sulit. Coba tuliskan rencana perubahanmu di atas selembar sticky note, lalu umumkan rencana tersebut kepada orang di sekeliling. Jadi, kamu akan lebih fokus mengejar target tersebut.

2 COMMENTS

    • Benar. Mengajak diskusi untuk mengurai permasalahan/toxic yang ada di kantor memang solusi yang tepat. Langkah diskusi yang pertama: lakukan secara privat, jangan di depan publik ya. Jangan bikin ‘si toxic’ ini merasa dihakimi/dipermalukan di depan umum.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here