Scrum Master: Agility Mendukung Perusahaan Lebih Mengenal Konsumen

Scrum Master : Agility Mendukung Perusahaan Lebih Mengenal Konsumen

Agility tak hanya membantu tim kerja menjadi lebih cepat dalam menghasilkan produk baru. Penerapan agility dalam sebuah perusahaan juga mampu memahami kebutuhan konsumen dengan lebih cepat.

Proses pengonsepan hingga munculnya sebuah produk yang begitu cepat, menuntut masukan dari pasar dan konsumen agar produk yang dihasilkan betul-betul dapat memenuhi kebutuhan konsumen.

How Agility Help You Thrive and Understand Your Customer” menjadi tema dalam meet-up Agile Circles Indonesia yang diadakan, Rabu (14/8), di Jakarta.

Sesi meet-up kali ini mengundang Fachdian Ian, Scrum Master Home Credit Indonesia, dan Edo Suryo Pamungkas, Scrum Master OCBC NISP.

Selain sama-sama berperan sebagai Scrum Master, kesamaan lainnya dari kedua panel, yaitu sama-sama bekerja dalam perusahaan yang sedang bertransformasi menerapkan agile system.

Scrum Master : Agility Mendukung Perusahaan Lebih Mengenal Konsumen
Edo Suryo Pamungkan, Scrum Master OCBC NISP (kiri) dan Fachdian Ian, Scrum Master Home Credit Indonesia (kanan). (Foto: Kiky.Waode/Job-Like Magazine)

Edo menuturkan, ia tidak pernah membayangkan sebelumnya bahwa salah satu bank tertua di Indonesia mau dan mampu menerapkan konsep agile dalam rantai bisnisnya.

Tak hanya melengkapi proses perbankan dengan segala kecanggihan digital, namun bagaimana perusahaan terus berinovasi untuk menjawab kebutuhan konsumen. Bukan hanya untuk memenuhi keinginan semata.

“Proses scrum dapat berjalan dengan baik jika memenuhi tiga prinsip, yaitu transparan, melakukan pemeriksaan, dan segera beradaptasi. Ketiga prinsip tersebut dapat mendorong proses kerja scrum menjadi lebih tepat dan efisien untuk konsumen,” jelasnya dalam sesi workshop.

Scrum Master : Agility Mendukung Perusahaan Lebih Mengenal Konsumen
Peserta meet-up diajak untuk saling berinteraksi dan menuangkan gagasannya (Foto: Kiky.Waode/Job-Like Magazine)

Metodologi agile mendorong perusahaan untuk memberikan kesempatan kepada tim untuk melakukan percobaan lebih banyak. Yang harus dilakukan oleh team leader bukan lagi hanya sekedar memberikan perintah, namun terjun langsung bersama tim untuk mengawal proses penciptaan produk.

“Perusahaan yang sudah terbiasa dengan kondisi pasar yang stabil, biasanya tidak sadar bahwa kondisi pasar dan konsumen berubah. Cara kerja pun harus berubah agar tetap dapat bersinergi,” tambah Ian.

Baca Juga: Praktek kerja CALMS DevOps untuk Mempercepat Proses Kerja IT

“Dalam cara kerja scrum yang terpenting bukan lagi output (keluaran) namun outcome (hasil). Outcome akan menentukan output dengan kualitas terbaik,” lanjutnya.

Menurut Ian, Home Credit Indonesia membutuhkan waktu untuk bertransformasi menjadi agile secara keseluruhan. Bukan hanya pada bisang IT saja, tetapi juga dengan keseluruhan bisnis.

Butuh eksperimen dalam iterasi yang berkelanjutan untuk menerapkan agility dalam proses transformasi agile. Proses transformasi masih berjalan hingga saat ini, misalnya membuat Agile Champion, menerapkan OKR (Objective & Key Result), dan mulai membuat iterasi lain.

Bukan hal sederhana melakukan transformasi besar di dalam sebuah organisasi besar. Perjalanan panjang yang mengikuti perilaku konsumen pun dimulai.

Scrum Master : Agility Mendukung Perusahaan Lebih Mengenal Konsumen
Peserta antusias mendalami scrum dan agility. (Foto: Kiky.Waode/Job-Like Magazine)

“Kebiasaan yang sering dilakukan adalah kita sering menumpuk masalah kecil dalam organisasi, yang pada akhirnya setelah disadari sudah menjadi kompleks. Kompleksitas inilah yang dapat dipecahkan melalui cara kerja scrum,” kata Ian.

“Scrum memungkinkan adanya diskusi dan koordinasi yang lebih intens antar divisi dengan manager. Sehingga arah bisnis bisa terlihat lebih jelas.”

Proses scrum mengajarkan baik kepada perusahaan maupun tim untuk terus belajar, terus menghasilkan, dan terus menciptakan keputusan-keputusan untuk perbaikan produk yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Yang harus diingat oleh badan yang sudah menerapkan cara kerja scrum ini, yaitu untuk mencapai agility yang maksimal dibutuhan kerendahan hati, tidak takut untuk salah, transparansi, empati, serta kolaborasi antarbagian.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here