Digital Marketing, Benarkah Hanya Sebatas “Jualan” di Medsos?

Digital Marketing, Benarkah Hanya Sebatas

Banyak mitos yang beredar mengenai digital marketing. Salah satunya menganggap bahwa pekerjaan seorang digital marketer hanya sebatas promosi melalui media sosial. Dengan biaya murah dan siapapun dapat melakukan digital marketing.

Namun, hal tersebut dibantah oleh Ray Rahendra, Digital Strategist yang juga merupakan Creative Strategic Director GetCRAFT. Kalau semudah itu, untuk apa ada profesi copy writer? Untuk apa ada profesi creative designer?

Ya, dunia digital marketing perlahan berkembang di Indonesia sejak tahun 2011. Di awal kemunculannya masih banyak orang yang salah kaprah mengenai digital marketing.

Saat itu, banyak bisnis yang pemasarannya mulai bermigrasi dari konvensional ke digital. Tetapi, para pelakunya tidak memiliki wawasan yang cukup mengenai strategi dan eksekusi digital marketing.

Belum selesai masalah dalam memahami digital marketing, Ray melihat ada masalah lain yang seharusnya menjadi perhatian banyak pihak, baik pemerintah dan para profesional; adanya kesenjangan antara penggunaan digital marketing di kota-kota besar dengan para pelaku bisnis mikro yang mengangkat merek lokal.

“Ekosistemnya di Indonesia memang sudah terbentuk, sudah banyak pula orang-orang yang mengerti akan hal ini, tetapi jumlah dan dampaknya belum berimbang nih antara di kota besar dengan para pemilik merek lokal di kota kecil,” jelas Ray.

“Yang pintar-pintar tersentralisasi di Jakarta, sehingga yang ada di daerah bingung. Padahal, mulai banyak merek lokal yang bermunculan. Karena ketidakpahaman mereka tentang konsep digital marketing, maka ujung-ujungnya hanya ‘bakar duit’ tanpa hasil yang memuaskan,” lanjutnya.

Baca Juga : Tantangan Senior Media Planner : Tidak Boleh Berhenti Belajar!

So, How Can Digital Marketing Produce Maximum Results?

Tidak penting apa dan siapa yang mengeksekusinya, menurut Ray untuk menghasilkan produk digital marketing yang sukses harus diawali dengan ide dan strategi. Strategi didapatkan dari hasil riset yang mendalam mengenai brand, produk, dan target audiens.

Sesaat setelah menemukan strategi apa yang akan digunakan, maka perlu dipikirkan juga timeline kegiatan, jenis campaign, sampai kepada jenis konten apa yang akan digunakan.

Dalam prosesnya, satu tahun pelaksanaan biasanya dibagi menjadi tiga fase yaitu brand awareness, engagement, dan sales (penjualan).

“Dalam pelaksanaannya yang penting memiliki strategi yang jelas dan terukur, konten yang baik dan menarik, konsistensi, serta kreatif. Jangan lupa, seluruh elemen tersebut harus tepat sasaran ke audiens yang tepat karena percuma semuanya bagus tetapi malah salah sasaran,” tambah pengajar di Purwadhika Startup School ini.

Ray percaya bahwa pemasaran digital bisa diukur kesuksesan maupun kegagalannya. Jika tidak bisa diukur, maka ada yang salah dari prosesnya. Tolak ukur dari keberhasilannya tergantung dari tujuannya.

Jika tujuannya sebagai brand awareness atau product launch maka tolak ukur keberhasilannya mungkin cukup berupa engagement di media sosial, seperti banyaknya like, comment, reach dan share.

“Namun, jika ada brand yang tujuannya untuk menjual produk, maka strategi yang digunakan, yaitu untuk menjual produk, bukan lagi dalam tahap product launching atau brand awareness. Tidak bisa disamakan cara promosinya. Digital marketing itu harus bisa diukur dan tujuannya harus jelas,” ungkapnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here