Separatisme di Papua yang Tak Kunjung Usai

Ilustrasi gerakan separatis Papua
Ilustrasi gerakan separatis Papua. Designed by Luis_molinero

Polisi dikejutkan dengan laporan tentang dugaan pembunuhan puluhan pekerja proyek pembangunan jembatan di Kali Yigi dan Kali Aurak, Kabupaten Nduga, Papua, pukul 15.30 WIT, Senin (3/12/2018). Polisi pun bergerak bersama TNI ke daerah yang dituju.

Tak mudah. Petugas gabungan harus menempuh jarak sekitar 10 kilometer dari Distrik Mbua ke Distrik Yigi, itupun dengan medan yang berat.

Selasa (4/12/2018) sore, tim gabungan berhasil mencapai titik penyerangan terjadi.

Pukul 17.55 WIT, mereka mengamankan 12 korban selamat dalam peristiwa tersebut.

Menteri Pertahanan Ryamirzad Ryacudu pun mengultimatum kelompok separatis yang menembak puluhan pekerja Trans Papua di Nduga, Wamena, itu untuk menyerah. Dia mengaku tidak akan bernegosiasi dengan kelompok teroris tersebut.

“Bagi saya tidak ada negosiasi. Menyerah atau diselesaikan. Itu saja,” ujar Ryamirzad di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (4/12/2018).

Dia mengatakan kelompok tersebut bukanlah kelompok kriminal. Tidak tepat bila mereka disebut dengan julukan itu.

“Mereka itu bukan kelompok kriminal tapi pemberontak. Kenapa saya bilang pemberontak? Ya kan mau memisahkan diri, Papua dari Indonesia. Itu kan memberontak, bukan kriminal lagi,” kata Ryamizard.

“Ingin memisahkan Papua dari Indonesia itu apa? Ingat, ingin memisahkan diri. Tugas pokok Kemenhan, tugas pokok TNI, satu, menjaga kedaulatan negara. Kedua, menjaga keutuhan negara. Tiga, menjaga keselamatan bangsa,” lanjut dia.

Dia merasa bertanggung jawab atas penanganan kasus pembunuhan di Papua itu.

Seharusnya, dia memberikan rincian tindakan yang perlu dilakukan pada polisi dan tentara yang memang ditugaskan untuk menjaga Papua dari kelompok separatis tersebut.

“Sebagai Menteri Pertahanan juga bertanggung jawab. Tanggung jawab saya juga bukan hanya polisi dan tentara saja. Saya bertanggung jawab, kenapa? Saya tidak merinci apa yang harus dilakukan polisi dan tentara, harus ada jelas siapa berbuat apa,” ujar Ryamizard.

Pembunuhan ini berawal dari pekerja yang diduga merekam dan menyaksikan kelompok tersebut saat memperingati ulang tahun Organisasi Papua Merdeka (OPM) pada 1 Desember.

Kelompok itupun marah dan membunuh korban karena tak ingin kegiatannya terpublikasi.

Namun, polisi belum bisa memastikan motif pelaku menghabisi nyawa para pekerja.

“Motif tidak jelas. Ada narasi di media tapi belum tentu dipercaya. Tunggu saja, ketika kami berhasil ke lokasi kami akan melakukan olah TKP, mengumpulkan bukti yang ada, petunjuk yang ada, dan kami akan sampaikan ke publik,” ucap Kepala Divisi Humas Polri Brigjen Pol Mohammad Iqbal di kantornya, Jakarta Selatan, Selasa (4/12/2018).

Kasus pembunuhan warga sipil oleh kelompok separatis di Papua, tak hanya sekali dua kali terjadi. Kasus ini terus berulang. Lalu, kapan kelompok itu akan diberantas?

“Jadi tadi saya sudah bicara dengan Kapolri, Panglima TNI untuk segera dilakukan pengejaran yang habis-habisan. Supaya apa? Supaya tak terulang lagi. Ya habis-habisan, sampai ketemu,” kata Menko Polhukam Wiranto, Jakarta, Selasa.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here