Film “Dua Garis Biru”: Mengungkap Sex Education yang Dianggap Tabu

Satu lagi film Indonesia yang menuai sukses tahun ini. Film “Dua Garis Biru” sanggup meraup lebih dari 1,5 juta penonton di hari ke-11 penayangannya di bioskop.

Meski angka tersebut tidak sefenomenal film “Dilan 1991”, pencapaian film garapan Gina S. Noer ini patut diacungi jempol mengingat sempat diduga menimbulkan banyak kontroversi.

Berikut ulasan singkat mengenai film “Dua Garis Biru” yang sedang laris di pasaran.

Dara dan Bima, Pemicu Konflik di Film “Dua Garis Biru”

Dara dan Bima, Pemicu Konflik di Film "Dua Garis Biru"
Sumber: provoke-online.com

Sejak muncul trailer-nya di YouTube, sudah jelas bahwa sosok Dara (Zara JKT48) dan Bima (Angga Yunanda) adalah tokoh utama di film ini. Dua anak remaja SMA tersebut memang menjadi pusat dari semua konflik yang bermunculan di sepanjang cerita. Keduanya terlibat dalam masalah pelik karena “kebablasan” saat berpacaran.

Dua tokoh ini cukup unik karena hadir dari dua latar belakang keluarga yang jauh berbeda. Di sini penonton dapat belajar bagaimana keluarga mereka menyikapi masalah yang menimpa Dara dan Bima. Meski hanya tokoh fiksi, masalah Dara dan Bima pasti kerap juga ditemukan di dunia nyata.

Bukan tentang Free Sex, Melainkan Sex Education

Bukan tentang Free Sex, Melainkan Sex Education
Sumber: provoke-online.com

Jauh sebelum film “Dua Garis Biru” tayang, banyak petisi bermunculan untuk memboikot film ini. Kebanyakan petisi beralasan bahwa film ini mempunyai potensi mengajarkan free sex di kalangan remaja. Berbagai pro dan kontra muncul sebagai reaksi atas petisi-petisi yang ada.

Pada dasarnya, film yang disutradarai oleh Gina S. Noer ini justru lebih banyak mengajarkan sex education yang selama ini dianggap tabu di masyarakat. Betapa cerdasnya cerita “Dua Garis Biru” mampu meruntuhkan sekat yang selama ini sangat jarang dibahas antara orang tua dan anak.

Jadi, sulit rasanya menilai film ini sangat tidak baik untuk ditonton remaja karena justru begitu banyak pelajaran mengenai sex education yang bisa melindungi remaja dari free sex.

Tema Keluarga, Cinta, dan Pertemanan Mewarnai Film “Dua Garis Biru”

Tema Keluarga, Cinta, dan Pertemanan Mewarnai Film "Dua Garis Biru"
Sumber: provoke-online.com

Alih-alih menonjolkan free sex, film ini akan membawa kamu melihat akibat dari free sex tersebut menjadi masalah bagi sebuah keluarga. Setiap pemain di film ini benar-benar diberi ruang untuk menyelesaikan masalah Dara dan Bima. Kamu bisa belajar bagaimana besarnya peran keluarga dalam masalah hamil di luar nikah.

Nilai-nilai seputar keluarga, pertemanan, dan cinta yang menjadi penguat atas masalah Dara dan Bima. Gina S. Noer begitu manis mempertemukan konflik dan penyelesaian tanpa terkesan dibuat-buat alias realistis.

Baca Juga: Review Film “Five Feet Apart”: Ketika Cinta Terpisah Jarak Lima Langkah

Debut Pertama Gina S. Noer sebagai Sutradara yang Dianggap Sukses

Debut Pertama Gina S. Noer sebagai Sutradara yang Dianggap Sukses
Sumber: provoke-online.com

Selama ini Gina S. Noer dikenal sebagai penulis skenario yang sukses. Film “Dua Garis Biru” menjadi awal dari debut Gina sebagai sutradara film. Tidak bisa dipungkiri kalau sudah banyak orang menantikan karya pertama dari Gina di film ini.

Dengan sambutan penonton yang luar biasa, rasanya sangat pas jika Gina S. Noer dinilai sukses menyutradarai film ini. Bahkan, detail dari setiap bagian di film ini patut diacungi jempol. Kesuksesan Gina sebagai penulis skenario tampaknya juga berlalu saat dia menjadi sutradara.

Kalau kamu belum sempat menonton film “Dua Garis Biru”, tidak ada salahnya meluangkan waktu untuk menontonnya. Apalagi bagi kamu yang juga berperan sebagai orang tua muda, film ini sangat pas sebagai bekal mengajarkan sex education ke anak-anak kelak.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here