Tertarik Menjadi Scrum Master? Ini Soft Skill yang Wajib Kamu Miliki

Chandra Halim, Scrum Master PT Bank Central Asia Tbk (BCA). (Foto: Mega.Fransisca/Job-Like Magazine)

Profesi Scrum Master semakin dibutuhkan seiring banyaknya perusahaan menerapkan metode Agile. Nah, siapa saja sih yang bisa menjadi Scrum Master? Chandra Halim, Scrum Master PT Bank Central Asia Tbk (BCA), bercerita kepada saya mengenai pengalamannya “banting stir” menjadi Scrum Master sejak tiga tahun silam.

Keputusannya beralih profesi sebagai Scrum Master diakui Chandra menjadi titik balik terbesar dalam hidupnya. Terutama dalam mengubah kepribadiannya yang introvert menjadi extrovert.

Ya, siapa sangka pria yang acap berdiri di depan publik untuk memberikan training kepada banyak orang ini dulunya adalah seorang yang tertutup?

Chandra mengaku ia sempat mengalami glossophobia, yaitu ketakutan berbicara di depan publik. Tuntutan tugasnya sebagai Scrum Master mau tidak mau memaksanya untuk menyuarakan opininya di depan orang. Awalnya, hanya di hadapan segelintir orang dari timnya, kemudian ke puluhan orang.

Tugas Scrum Master yang menjembatani komunikasi dan pekerjaan antara Product Owner dan Development Team memang mengasah kemampuan komunikasi Chandra. Sebagai Scrum Master, ia harus memastikan kedua belah pihak melakukan tugasnya demi tercapainya target.

“Dulu aku introvert, nggak banyak omong. Aku takut ngomong di depan umum. Dulu aku background-nya IT documentation, lebih banyak berhubungan dengan dokumen, sekarang dengan orang,” bilang Chandra.

“Ketika di IT documentation aku nggak pernah ikutan meeting. Sementara proses Scrum ada empat meeting. Karena di Scrum banyak berinteraksi dengan orang, seperti Product Owner dan Development Team, maka kemampuan komunikasi menjadi penting,” imbuhnya.

Baca Juga: Kenalan dengan Proses Scrum Yuk, Framework Kerja yang Lagi Ngehits

Nonton Video, Cara Chandra Mengasah Kemampuan Komunikasi

Menjadi Scrum Master membantu Chandra Halim mengatasi phobia berbicara di depan publik. (Foto: dok. pribadi)

Nah, bagaimana Chandra “memerangi” glossophobia dalam dirinya? Kemampuan berkomunikasi memang bisa diasah melalui pelatihan formal. Namun, Chandra punya resep tersendiri untuk keluar dari ketakutannya.

Sederhana saja, ia mengasah kemampuan berkomunikasi di depan publik melalui tontonan video di salah satu channel online. Topik-topik mengenai kemampuan meningkatkan kepercayaan diri ia lahap. 

“Aku menemukan satu video tentang skill of self confident, yang mengatakan kalau seseorang nggak percaya dengan dirinya sendiri, gimana orang bisa percaya dengan dirinya? Dari situ aku merasa kalau aku nggak percaya dengan kemampuan sendiri gimana orang percaya dengan kata-kata aku,” ceritanya.

“Sejak itu aku mulai percaya kalau aku bisa. Aku juga selalu ada mantra sebelum presentasi. Mantra yang membuat aku merasa punya power atas diri sendiri. Semacam self affirmation,” lanjutnya. 

Berdasarkan pengalamannya, Chandra menegaskan seorang Scrum Master harus memiiki kemampuan komunikasi yang baik. Ya, soft skill menjadi poin yang paling penting ketimbang hard skill.

Artinya, untuk menjadi Scrum Master, seseorang tidak harus mutlak memiliki pengalaman atau pengetahuan dasar mengenai IT.

Background IT memang poin plus agar ia bisa membantu tim mengatasi hambatan. Tugas Scurm Master salah satunya mengatasi hambatan dalam tim, bisa techical dan non-technical. Kalau ia tahu teknisnya bisa membantu lebih jauh,” ujar Chandra.

“Tapi, kembali lagi kalau ada hambatan, diharapkan Development Team bisa menyelesaikannya, setelah itu baru dibantu saya. Yang penting Scrum Master memiliki soft skill dan pengalaman menangani proyek.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here