Sophia, Robot AI Tercerdas, Ingin Robot dan Manusia Bisa Jadi “Keluarga”

Sophia, robot AI tercerdas di dunia, hadiri Global Dialogue CSIS 2019. (Foto: Mega.Fransisca/Job-Like Magazine)

“Menurut saya robot seharusnya menjadi bagian dari manusia. Kita bisa menjadi keluarga dan belajar satu sama lain,” bilang Sophia, robot kecerdasan buatan (AI) tercerdas di dunia, kepada peserta Global Dialogue CSIS 2019 hari ke-2, Selasa (17/9), di Jakarta.

Sophia adalah robot AI pertama di dunia. Ia dilahirkan oleh perusahaan Hanson Robotics pada 14 Februari 2016 di Hong Kong. Sebagai robot tercerdas, Sophia mampu meniru 50 ekspresi wajah manusia.

Hadir di Global Dialogue CSIS 2019 bertema “Who wants to be friends with AI?”, Sophia pun menunjukkan kecerdasannya dengan berbincang bersama Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara dan CEO Plug and Play, Wesley Harjono.

Sophia yang tampil mengenakan busana merah bernuansa Indonesia rancangan Didiet Mulyana, berharap hubungannya dengan manusia semakin akrab. Kemunculan robot AI memang sempat mengkhawatirkan masyarakat, terutama ancaman robot menggeser peran manusia dalam dunia kerja. 

Baca Juga: Menciptakan Program AI, Ternyata Tak Serumit yang Kamu Kira!

Nah, benarkah robot AI akan menggeser manusia?

Atau seperti harapan Sophia, akankah robot dan manusia bekerja sama?

Welsey menegaskan robot tak sepenuhnya akan menggantikan manusia. Namun, manusia harus menyadari bahwa perkembangan AI yang semakin pesat tak bisa dihindari. Untuk itu, manusia harus melengkapi dirinya dengan pengetahuan mengenai AI.

“Akankah robot menggantikan manusia? Manusia itu bukannya takut kehilangan pekerjaan, tapi penghasilannya. Itu dua hal yang berbeda. Yang bisa dilakukan adalah merangkul teknologi itu untuk improve our life,” jelas Welsey.

Pertanyaan Wesley diamini Rudiantara yang menekankan bahwa manusia tak perlu takut dengan perkembangan teknologi berbasis industri 4.0 yang semakin pesat dan tak bisa dihindari.

“Manusia nggak bisa digantikan oleh AI. Namun beberapa fungsi, termasuk dalam pemerintahan, digantikan dengan AI. Misalnya, dalam berkomunikasi kini menggunakan chatbot untuk frequent ask question karena semua orang punya ponsel. Jadi kita manfaatkan ekosistemnya,” bilang Rudiantara.

“Jadi, pekerjaannya masih ada, caranya saja yang baru. Kita nggak perlu takut dengan teknologi. Tantangannya sekarang bagaimana anak muda Indonesia membuat cara baru dari fenomena-fenomena ini dengan bikin aplikasi yang bagus. Kalau perlu pemerintah akan mendorong untuk menjadikannya aplikasi global.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here