Filosofi Ikigai Jepang Lahirkan Startup untuk Solusi Pendidikan Indonesia

Filosofi Ikigai dari Jepang diterapkan Frisky Nurmuhammad untuk melahirkan solusi di dunia pendidikan Indonesia. Dengan konsep Ikigai, Frisky menjembatani para pelajar untuk menemukan minat pendidikan di level universitas yang sesuai dengan karakternya.

Istilah Ikigai bagi masyarakat Jepang adalah konsep untuk menemukan kebahagiaan dalam hidup di tengah tekanan pekerjaan dan hidup. Terminologi Ikigai sendiri terdiri dari “iki”, yaitu kehidupan, dan “gai” yang berarti nilai.

Untuk menemukan Ikigai, kamu harus menemukan jawaban atas empat pertanyaan berikut, “Apa yang saya sukai?”, “Saya ahli di bidang apa?”, “Apa yang bisa mengubah masa depan saya?”, dan “Apa yang dibutuhkan dunia?”.

Pertanyaan pertama terkait dengan minat. Pertanyaan kedua merujuk pada misi hidup. Pertanyaan ketiga dan keempat berhubungan dengan pekerjaan atau profesi. Mengadopsi filosofi Ikigai ini, Frisky dan rekan-rekannya mendirikan sebuah startup edtech bagi para pelajar lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA).

Baca Juga: Ssst..Ini Rahasia Founders Startup Base Kerja Tanpa Stres

Startup yang diberi nama Ikigai ini membantu pelajar untuk menentukan masa depannya dengan memilih jurusan kuliah yang tepat sesuai dengan minat dan karakternya. Ide edtech ini dicetuskan Frisky berdasarkan kegelisahannya ketika sang adik merasa galau dengan jalur pendidikan yang akan diambil seusai lulus SMA.

“Saya melihat tidak ada perbedaan kondisi dengan 10 tahun lalu ketika saya lulus SMA. Sudah 10 tahun tetapi tidak ada perubahan. Biasanya anak SMA memilih jurusan kuliah sekadar ikut teman atau disuruh oleh orangtuanya. Itu lumrah banget. Kami nggak mau anak SMA asal pilih jurusan,” jelas Frisky, CEO Ikigai, ketika ditemui Job-Like Magazine.

Lalu, Bagaimana Ikigai Membantu Pelajar Menemukan Jurusan yang Sesuai?

Frisky Nurmuhammad (CEO Ikigai). (FOTO: Mega.Fransisca/Job-Like Magazine)

Frisky menjelaskan metode bisnisnya menemukan minat dan kecocokan setiap individu berdasarkan pendekatan psikologis. Data yang diperoleh dari pendekatan psikologis kemudian diperkuat dengan data akademik dan prestasinya.

“Kami melakukan pendekatan psikologis karena karakter itu nggak bisa diubah dan ada di dalam diri masing-masing. Setelah individu kami nilai dari segi psikologis, kami lengkapi dengan rekor akademis, prestasi, termasuk ekstrakurikuler. Itu semua ada di dalam satu platform,” ujarnya.

“Data user dalam platform itu kemudian kami serahkan ke universitas untuk mereka nilai apakah individu tersebut cocok atau tidak.”

Namun, menurut Frisky, Ikigai masih menemui banyak tantangan untuk menembus universitas-universitas di Indonesia karena proses seleksi masuk yang masih konvensional, yaitu berdasarkan hasil dari tes masuk.

Model bisnis yang ditawarkan Ikigai justru diterima oleh pasar Eropa. Ikigai yang berdiri sejak 2018 ini telah bekerja sama dengan sembilan universitas di Uni Eropa dan 30 universitas di Turki.

Meski telah mendapatkan suntikan dana pertama dari Alpha Momentum Indonesia sebesar US$20 ribu, Ikigai terus mencari pendanaan untuk menjaring lebih banyak universitas di Indonesia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here