Startup Qiscus, Solusi Permudah Komunikasi Bisnis di Tengah Pandemi

Startup Qiscus integrasikan komunikasi chat dalam satu platform. (FOTO: dok. Qiscus)

Pandemi COVID-19 mengubah pola aktivitas keseharian menjadi berbasis digital. Mulai dari aktivitas bekerja, belajar, hingga urusan makan diaplikasikan secara digital. Ini tak terlepas karena kebijakan social distancing untuk meredam penyebaran virus. Perubahan perilaku sosial ini memberikan dampak positif bagi startup Qiscus.

Servis layanan komunikasi chat multi platform yang ditawarkan Qiscus menjadi solusi untuk mempermudah aktivitas di masa pandemi. Startup yang didirikan oleh Delta Purna Widyangga dan beberapa rekannya, ini memang fokus untuk mengintegrasikan komunikasi dalam satu kanal. 

Misalnya, integrasi komunikasi chat untuk menciptakan customer experience yang baik bagi pelaku bisnis. Melalui fitur Qiscus Multichannel, pelaku bisnis akan lebih mudah berinteraksi dengan konsumen. Pasalnya, fitur ini menjadi platform untuk mengelola beragam aplikasi chat, seperti WhatsApp, LINE, Facebook Messenger, Web widget, dan lainnya.

Pengelolaan dalam satu platform ini jelas lebih efisien dan efektif. Pelaku bisnis tidak perlu khawatir kewalahan dalam menjawab chat pertanyaan konsumen karena tersedianya template message dan pengaturan untuk menjawab secara otomatis di luar jam operasional.

Selain Qiscus Multichannel, startup Qiscus juga menawarkan Qiscus Meet yang bisa digunakan untuk komunikasi video konferensi ataupun community call. Fitur ini menjadi solusi tepat di masa penerapan bekerja dari rumah selama pandemi. 

Sementara itu, untuk memberikan customer experience yang lebih fleksibel dan mudah diatur, Qiscus memiliki Qiscus In-App Chat. Platform ini bisa digunakan untuk kebutuhan chat pada on-demand service maupun community group messaging

“Qiscus tidak terdampak secara langsung dengan pandemi. Dampaknya tergantung dari vertikal industri klien. Ada industri yang slowing down seperti travel dan hospitality. Ada juga yang melesat seperti edukasi, kesehatan maupun penjualan kebutuhan esensial,” ujar Delta kepada Job-Like Magazine.

“Solusi Qiscus justru bisa menjadi alternatif solusi agar bisnis tetap bertahan dalam kondisi pandemi. Contohnya, industri F&B dan beauty cukup terdampak dengan pandemi. Tapi, Qiscus bisa membantu pelaku bisnis ini untuk segera mengadopsi mode konsultasi dan penjualan online,” jelasnya. 

Qiscus: Dari Bootstrapping ke Pre-Series A

Qicsus memasuki pendanaan Pre-Series A. (FOTO: dok. Qicsus)

Didirikan pada 2013 oleh Delta dan ketiga rekannya, Amin Nordin, Evan Purnama, dan Muhammad Md Rahim, Qiscus memulai bisnisnya sebagai startup dengan boostrapping. Nilai jual Qiscus sebagai penyedia chat multi platform sukses menarik perhatian beberapa investor.

Qiscus telah mendapatkan suntikan dana dari Angel investor, Corporate, dan Venture Capital. Pada akhir 2015, Qiscus mendapatkan investasi sebesar US$250 ribu. Lalu, di awal 2017, dana segar kembali diterima Qiscus sebesar US$300 ribu. Kini Qiscus berada di tahap pendanaan Pre-Series A.

Meski demikian, Delta menegaskan kesuksesan sebuah startup ditentukan oleh inovasi atas solusi yang dilahirkan, bukan sekadar keberhasilan menggaet investor. Delta juga mengatakan timnya mengutamakan kesesuaian visi sebelum menerima pendanaan dari investor.

“Yang pertama sekali menurut kami adalah fokus pada membangun bisnis yang baik dan tumbuh dengan cepat, baik dari sisik market yang disasar, solusi yang diciptakan, maupun financial profitability. Ini membuat keberadaan investor sebagai bonus atau akselerator, bukan sebagai sesuatu yang wajib ada agar bisnis bisa bertahan atau eksis,” jelasnya.

“Sisanya, kemudian adalah bagaimana bisa menyiapkan komunikasi yang baik untuk menceritakan kondisi bisnis kita ini ke potensial investor. Dan lebih dari sekadar dana yang bisa dikucurkan, kami juga sangat melihat kesesuaian visi dengan para pendiri juga expertise yang bisa dikontribusikan.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here