Strategi Sukses Startup Mau Belajar Apa Lewat Peran Komunitas

Ilustrasi komunitas belajar.

Komunitas disebut Founder Mau Belajar Apa, Jourdan Kamal, sebagai kunci penting dalam membangun sebuah bisnis. Komunitas turut berperan untuk menjaga keberlangsungan bisnis, termasuk ketika diterpa krisis seperti pandemi COVID-19 sekarang ini. Hal ini sudah dirasakan Mau Belajar Apa yang didirikan pada Juni 2014.

Berbasis sebagai platform edukasi, Mau Belajar Apa fokus membangun komunitas sejak awal didirikan. Ini dikarenakan, berbeda dengan platform edukasi lain yang berlangsung secara online, Mau Belajar Apa justru menawarkan program kelas offline. Praktik kelas tatap muka pun melahirkan komunitas yang juga menjadi wadah networking bagi para muridnya.

Pondasi komunitas yang sudah terbangun kuat selama enam tahun terakhir menjadi keuntungan bagi Mau Belajar Apa ketika pandemi menguak. Tuntutan untuk beralih menjadi kelas digital akibat adanya perbatasan sosial, cukup terbantu oleh peran komunitas. Meskipun prosesnya tidak mudah dan diakui Joudan bahwa para pengguna platformnya lebih menyukai untuk kelas offline.

“Di awal mulai, fokus kami memang bukan di produk, tapi komunitas. Karena menurut saya komunitas itu kunci untuk sustainability juga. Jadi ketika ada pandemi pun komunitas bisa membantu dalam hal karena customer based sudah ada, ketika harus switch product bisa dilakukan,” ujar Jourdan dalam sebuah webinar beberapa waktu lalu.

“Menariknya lagi, ketika pandemi ini terjadi, kami dan pengguna bisa saling curhat melalui komunitas. Malah komunitas memberikan ide kepada kami, apa yang sebaiknya dilakukan Mau Belajar Apa,” imbuhnya.

Baca Juga: Belajar Online: Solusi untuk Upgrade Skill Karyawan Masa Kini

Jourdan: No Point Ubah Jadi Kelas Online Tapi Tidak Efektif!

Joudan mengungkapkan proses transformasi dari kelas offline ke digital tidak terlalu sulit untuk dilakukan Mau Belajar Apa. Namun, ia dan timnya tetap bekerja keras untuk menjaga efektivitas kelas online. Pasalnya, perubahaan menjadi digital secara tidak langsung mengikis beberapa faktor penting yang selama ini ditawarkan kelas offline Mau Belajar Apa. Salah satunya, interaksi antara pengajar dan murid.

“Perubahan besar jelas terjadi dan kami harus belajar bagaimana untuk membuat lebih efektif. No point kalau kelas cuma diganti ke digital, tapi tidak efektif. Kami harus memastikan sebagai platform yang bisa membantu orang-orang untuk belajar seefektif mungkin,” jelas Jourdan.

“Ketika kami harus switch ke digital, kami meminta guru-guru untuk convert kelas-kelas offline ke online selama satu minggu. Mereka harus pelajari menggunakan Zoom dan webinar platform lainnya. Thank God, dalam 1 minggu sudah bisa diubah dari kelas offline ke online. Meski 80 persen pengguna kami komplain karena melalui online terasa kurang dari environment, networking, dan interaksinya.”

Dalam webinar yang juga dihadiri oleh beberapa founder startup ini, Jourdan berbagi pengalamannya dalam mendirikan startup. Ia selalu memegang prinsip untuk memahami karakter manusia ketika membangun bisnis. Memahami perilaku target market penting untuk memastikan bisnis model yang dirancang sudah tepat.

“Prinsip saya ketika membangun bisnis adalah mencari niche atau lebih ke understanding character human nature. Human nature pasti maunya socialize, learning, itu hal-hal yang tidak bisa dihilangkan. Ada pandemi atau tidak, orang pasti makan, pasti mau belajar. Selain itu, kita juga harus innovate, resilience, dan cepat melihat peluang pasar yang ada,” jelasnya. 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here