Strategi Blue Bird Hadapi Perubahan Zaman, Ini Kata Presdirnya

Strategi Blue Bird Hadapi Perubahan Zaman, Ini Kata Presdirnya
Sumber : Akhmad Nurkohim Blogspot

Siapa yang tidak tahu taksi Blue Bird? Blue Bird Group dikenal sebagai pionir perusahaan taksi di Indonesia. Berdiri sejak tahun 1972, Blue Bird Group merupakan perusahaan taksi pertama yang menggunakan argometer. Pada saat itu, transportasi umum banyak yang dianggap “gelap” lantaran tidak memiliki izin dan tarif yang jelas.

Pada masanya, merupakan suatu kehormatan bisa menaiki taksi Blue Bird yang menjadi transportasi umum premium. Memang, tidak semua orang memiliki kesempatan untuk menaiki taksi premium dengan harga yang mengikuti argo, sesuai dengan jarak tempuh. Inilah yang menjadi kebanggan bagi orang-orang yang mampu untuk menaiki taksi sekelas Blue Bird.

Noni Sri Ayati Purnomo, Presiden Direktur Blue Bird Group merupakan salah satu pewaris bisnis keluarga ini. Baginya, ini bukan merupakan hal baru. Sejak kecil, ia telah diajak untuk melihat langsung bagaimana perusahaan taksi ini mengelola bisnisnya. Ia pun telah terbiasa untuk menghadapi perubahan, termasuk yang terjadi saat ini ketika taksi online mulai merajai pasar transportasi massa.

“Kami melihat, Blue Bird sebagai pioner transportasi umum yang menerapkan sistem argo. Namun, dunia terus berubah dan berinovasi. Pada 26 Maret 2016, saya kaget melihat banyak pengemudi kami turun ke jalan untuk mempertanyakan keberadaan taksi online. Sekitar 2 ribu pengemudi menunjukkan solidaritasnya.”

“Ini menjadi wake up call untuk kami. Dari yang dulunya dipandang sebagai sesuatu yang berintegritas namun karena kejadian tersebut, pengemudi-pengemudi taksi kami jadi dipandang seperti ‘angry bird’.”

Baca Juga : Jalin Kerjasama, Pesan Taksi Blue Bird Kini Bisa Lewat Go-Jek 

Dari kejadian unjuk rasa tersebut, Noni belajar banyak hal. Salah satunya, bagaimana perusahaan menentukan apa yang menjadi kekuatan dan kelemahannya. Selain itu, sejauh mana perusahaan yang kini dianggap konvensional bisa menyesuaikan diri dengan perubahan zaman.

“Untuk memenuhi kebutuhan pasar di era digital seperti ini, pertama kami memperkenalkan reservasi secara mobile. Namun, ternyata masih belum bisa menyentuh keinginan pasar. Kami terus mencoba segala cara untuk memuaskan keinginan masyarakat dan mulai menggunakan armada kami lagi,” jelas Noni.

Menurut Noni, hal yang menimpa taksi Blue Bird merupakan sesuatu yang pasti terjadi pada perusahaan yang merasa sudah ada di zona nyaman.

“Meskipun kami sudah berada di zona nyaman, kami nyatanya belum melakukan cukup banyak hal. Kami harus menyadari bahwa perubahan pasti akan terjadi.”

Lantas, Perubahan Apa yang Dilakukan oleh Blue Bird?

Noni menyebut ada tiga hal yang dilakukan oleh Blue Bird untuk mengembalikan posisinya seperti semua. Pertama, melihat ke dalam tubuh internal apa yang bisa diperbaiki. Salah satunya dengan memperbaiki platform yang dapat mengakomodir kebutuhan pelanggan seperti layaknya yang dilakukan oleh taksi-taksi online.

Kedua, menggandeng kemitraan dengan berbagai instansi untuk berkolaborasi dan memberikan mutual benefit seperti yang sudah dilakukan dengan Traveloka dan Gojek. Ketiga, mencoba untuk membuat sesuatu yang baru dengan mencari startup potensial yang mampu memberikan solusi aplikatif kepada perusahaan.

“Biaya yang paling mahal itu adalah eksperimen. Ketika ada orang-orang baru yang bergabung dengan kami mereka pasti memiliki pemikiran yang berbeda. Nah, itu harus dikombinasikan dengan pengalaman yang ada. Sehingga, jangan heran kalau dalam implementasinya kita harus berani trial and error,” ungkapnya.

“Kata nenek saya, jangan pernah merasa berada di puncak gunung karena nanti akan turun gunung.”

Noni Sri Ayati Purnomo – Presiden Direktur Blue Bird Group

Beri komentar Anda tentang artikel ini