DOOgether Pakai Dua Rumus untuk Bangun Bisnis Startup, Bisa Ditiru

Ilustrasi fitnes online.

DOOgether menggunakan dua rumus dalam membangun bisnis startup wellness, terutama di tengah pandemi COVID-19 yang berdampak negatif pada proses bisnisnya. Menurut Founder dan CEO DOOgether, Fauzan Gani, in-depth interview dengan calon konsumen dan strategi semi-produk menjadi efisien untuk membaca kebutuhan pasar. 

In-depth interview menjadi kunci penting sebelum memastikan bisnis model yang diangkat benar-benar tepat sebagai solusi bagi calon konsumen. Fauzan mengatakan riset pasar menggunakan kuesioner atau survei tidak cukup efektif untuk menangkap pain point yang sebenarnya di tengah masyarakat.

Hal ini ia tegaskan berdasarkan pengalamannya membangun DOOgether yang menawarkan dua fitur DOOfit dan DOOfood. DOOgether sempat merasakan kegagalan di awal berdirinya karena servis yang mereka tawarkan kurang menjawab keinginan calon konsumennya. Ini dikarenakan permasalahan calon konsumen yang sesungguhnya tidak bisa tertangkap oleh pertanyaan mendasar melalui survei.

Baca Juga: Strategi Sukses Startup Mau Belajar Apa Lewat Peran Komunitas

Itu sebabnya, Fauzan dan tim membongkar strateginya. Melalui in-depth interview dengan sekitar 100 peserta selama dua bulan, Fauzan berhasil menemukan variabel pain point bagi mereka yang ingin menjalani gaya hidup sehat. Dengan modal curhatan 100 orang yang diwawancara, DOOgether membangun servis yang membantu penggiat olahraga untuk melakukan reservasi kelas olahraga yang lebih mudah dengan ragam merchant gym.  

“Kita sudah buat produk, diluncurkan, tapi nggak ada yang pakai. Kami gagal, tetapi kami belajar harus memahami konsumen. Melalui in-depth interview, kami mengetahui ada pain yang lebih luas, seperti proses booking ribet, pembayaran harus cash, sudah booking tapi tempatnya diambil orang karena telat datang,” ujar Fauzan dalam webinar beberapa waktu lalu.

“Kami melihat ada simple pain point yang bisa di-solve. Kami bantu sistemnya untuk merchant dan konsumen. Dari wawancara kami juga memahami alasan mereka ingin olahraga karena melihat orang-orang di sekelilingnya sudah olahraga. Jadi, kami melihat peran komunitas itu penting,” tuturnya.

“Dalam perjalanan, kami mengeluarkan aplikasi versi kedua. Kami rombak fiturnya sehingga user bisa saling add, melihat aktivitas olahraga orang lain, bahkan saat booking di tempat A bisa tahu siapa saja yang datang. Lalu efek dominonya mereka share ke sosial media. Kami menyadari kalau kami harus spend more time on customer.”

Strategi Semi-Produk Terbukti Efektif, Kenapa?

Belajar dari pengalaman kegagalannya, Fauzan dan timnya lebih fokus menggali informasi dan permasalahan yang dialami user ketika dihadapkan dengan tantangan bisnis. Termasuk perubahan bisnis dari offline ke online yang harus diterapkan akibat pandemi. Selain itu, Fauzan juga membocorkan strategi semi-produk.

Yaitu, meluncurkan produk atau servis yang belum dibangun secara fisik. Atau bisa disebut prototipe. Strategi ini diambil untuk menjaga efisiensi waktu pembangunan sistem sementara belum teruji kebenaran bahwa produk atau servis ini dibutuhkan user.

“Karena pertimbangan waktu, kadang-kadang proses development memakan waktu, sementara semi-produk diselesaikan 2-3 hari. Jadi kami membuat semi-produk. Misalnya, kami sempat keluarkan membership. Ketika user booking, prosesnya belum dengan sistem tetapi manual. Kami input secara manual. Kami mau tes apakah mereka benar mau bayar sebagai member atau tidak,” jelasnya.

“Dan ternyata ini terbukti efektif. Dari mata user tidak ada perubahan produk sebelum dan sesudah sistem dibangun. Karena perubahannya backend. Yang sebelumnya diproses secara manual, jadi menggunakan sistem. Tapi, fungsinya tetap sama,” tambahnya. 

Menanggapi perubahan pola konsumen karena pandemi, DOOgether juga tangkas memerbaiki servisnya dengan bertransformasi ke digital. Sejak awal pandemi, DOOgether telah mengalihkan kelas olahraga offline ke online. Fauzan menilai user akan kembali mengikuti kelas offline ketika pandemi berakhir, namun efek pandemi akan tetap terasa. Seperti adanya penurunan durasi, kuantitas, dan pengalaman yang dirasakan user.

Untuk itu, DOOgether akan tetap menggali inovasi fitur online yang bisa ditawarkan kepada usernya meskipun keadaan sudah kembali normal nantinya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here