Strategi Memulai Bisnis bagi Generasi Milenial Menurut Founder Kokumi

Generasi milenial identik dengan generasi sarat inovasi, ide, dan kreatif. Kebanyakan milenial pun akhirnya berlomba-lomba untuk terjun ke dunia bisnis. Ya, status young entrepreneur menjadi semakin banyak disemat oleh generasi milenial. Tapi, tak sedikit pula yang ketar-ketir mempertahankan bisnisnya karena tidak memahami strategi memulai bisnis.

Minimnya ilmu mengenai strategi memulai bisnis memang menjadi batu sandungan bagi banyak milenial. Pasalnya, mayoritas milenial memulai bisnisnya hanya dengan modal nekad atau mengikuti tren. Kesuksesan young entrepreneur membangun sebuah startup tak bisa dipungkiri menjadi “jimat” bagi generasi milenial lainnya untuk asal meniru.

Padahal, ilmu berbisnis penting untuk dipahami sebelum “menceburkan” diri ke dunia bisnis. Hal ini ditandaskan CEO sekaligus pendiri Kokumi, Jacqueline Karina. Keputusan Jacqueline membangun Kokumi tak dilakukan hanya dalam semalam.

Sebelum memberanikan diri sebagai entrepreneur, Jacqueline malang melintang selama 12 tahun untuk memahami sistem dan strategi memulai bisnis di dunia food and beverage (f&b).

Selama 10 tahun, Jacqueline menjadi konsultan makanan di beberapa pabrik lokal hingga negara tetangga di kawasan Asia Tenggara. Setelah itu, dua tahun sebelum membangun Kokumi, ia terjun ke dalam bisnis milik keluarganya yang juga bergerak di bidang yang sama. Dengan pengalaman panjangnya, ia mengantongi beberapa poin mendasar yang harus dimiliki sebelum memulai sebuah bisnis.

Pertama, Jacqueline menegaskan pentingnya bagi calon entrepreneur untuk memahami dirinya sendiri terlebih dahulu. Maksudnya, calon entrepreneur harus mengetahui passion dirinya agar berkesinambungan dengan bisnis yang akan dijalani. Strategi memulai bisnis ini juga yang diambil Jacqueline saat mendirikan Kokumi setelah 12 tahun berkutat di dunia f&b.

“Yang pertama sebelum memulai bisnis, you have to know yourself. Kamu mau buka bisnis apa? Awalnya passion saya fesyen, tapi saya tahu kapasitas saya setelah 12 tahun berkecimpung dalam food. Setiap orang punya pilihannya masing-masing, dan prioritasnya masing-masing,” ujar Jacqueline.

“Misalnya, ibu rumah tangga akan memiliki prioritas yang berbeda dengan wanita berumur 25 tahun, dari segi waktu dan manajemen keuangan. Jadi, ketahui dulu diri kamu, passion-nya apa?” lanjutnya.

Baca Juga: Founder Kokumi Akui Ciptakan Kokumi di Momen Tersulit dalam Hidupnya

Bisnis yang Bertahan Lama adalah yang Mampu Menjawab Permasalahan Konsumen

Strategi memulai bisnis kedua yang penting untuk dimiliki calon entrepreneur adalah mengetahui tujuannya mendirikan bisnis. Artinya, apakah bisnis tersebut ditujukan sebagai alat penghasil uang atau memiliki tujuan yang lain? Apabila targetnya untuk menghasilkan uang, maka cermati juga apakah produk/jasa tersebut mudah dibuat dan didistribusikan? Lalu, apakah bisnis yang akan dijalani ini memiliki potensi untuk scale up

“Kalau Kokumi dibuat agak susah karena bahannya fresh, sehingga logistiknya agak susah. Proses pembuatannya yang sulit juga membutuhkan training khusus bagi para staf. Tapi itu semua karena kami ingin produk ini berbeda. Strategi kami ingin menciptakan produk yang unik, menjadi pusat perhatian, dan ada nyawanya,” tutur Jacqueline.

Strategi memulai bisnis dengan mengetahui passion dan tujuannya, berkaitan dengan potensi masa depan bisnis tersebut. Pasalnya, sebuah bisnis yang memiliki keunikan tersendiri besar kemungkinan memiliki potensi untuk bertahan dalam jangka panjang. Hal ini kemudian berkaitan juga dengan keuntungan materi yang akan diperoleh.

Namun lain halnya bila bisnis yang dibangun hanya berdasarkan mengikuti tren dan tanpa perhitungan strategi yang tepat. Besar kemungkinan bisnis seperti ini rentan dengan kebangkrutan dalam jangka pendek. Nah, untuk bisa bertahan dalam persaingan bisnis, calon entrepreneur juga harus memahami calon konsumennya.

Jacqueline menegaskan seorang entrepreneur harus bisa menjawab permasalahan konsumennya dengan menawarkan solusi yang tepat. Dengan demikian, produk/jasanya akan terus dicari oleh konsumen. Untuk Kokumi sendiri, Jacqueline menjawab permintaan konsumen akan kebutuhan jajan minuman.

Namun, untuk menjadi unik dibandingkan merek-merek minuman lainnya, Kokumi hadir dengan pilihan rasa dan kemasan yang berbeda dan menarik. Ya, kemasan Kokumi tampil fresh karena disesuaikan dengan target market generasi milenial yang senang merepresentasikan dirinya melalui sosial media. Oleh karena itu, Kokumi pun gencar mempromosikan produk dan namanya dalam jaring sosmed.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here