BEI Godok Revisi Lima Alternatif Syarat IPO buat Startup Unicorn

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) terus meracik aturan bagi perusahaan rintisan unicorn untuk melakukan penawaran umum perdana saham (Initial Public Offering) di papan utama. Syarat IPO ini digodok BEI dengan memproses revisi Peraturan Bursa I-A. 

Revisi Peraturan Bursa I-A terkait persyaratan yang mewajibkan calon perusahaan IPO, termasuk startup unicorn, untuk membukukan laba usaha. Pembukuan ini minimal kurun satu tahun terakhir agar bisa tercatat di papan utama. 

Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna, menuturkan BEI juga akan melakukan penyesuaian pengaturan. Sehingga calon perusahaan tercatat bisa menggunakan lima alternatif persyaratan IPO.

Lima alternatif persyaratan yang dimaksud, yaitu,

  • Net Tangible Asset dan Laba Usaha;
  • Agregat Laba sebelum pajak dua tahun terakhir dan Nilai Kapitalisasi Pasar;
  • Pendapatan dan Nilai Kapitalisasi Pasar;
  • Total Aset dan Nilai Kapitalisasi Pasar;
  • Operating Cashflow Kumulatif dua tahun terakhir dan Nilai Kapitalisasi Pasar.

Baca Juga: Fintech Cashlez, Resmi IPO dan Berinovasi di Tengah Pandemi COVID-19

“Melalui peraturan I-A revisian ini nantinya Bursa akan memperkenalkan lima alternatif persyaratan. Ini sebagai pintu untuk tercatat di Papan Utama dan Papan Pengembangan. Dengan demikian, kami berharap peraturan ini lebih akomodatif bagi berbagai jenis industri di tanah air,” ujar Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna, dilansir Liputan6.

Nyoman menuturkan syarat IPO terkait nilai minimum Net Tangible Asset, yaitu sebesar Rp100 miliar. Ia juga menambahkan kelima alternatif persyaratan tersebut disesuaikan praktik terbaik yang diterapkan di bursa lain. BEI berharap peraturan ini akan membuka kesempatan yang lebih besar bagi perusahaan Indonesia untuk tercatat di papan utama.

“Alternatif-alternatif persyaratan tersebut kita sesuaikan dengan best practice yang diterapkan di Bursa lain. Dan harapan kami tentunya dapat membuka kesempatan yang lebih lebar bagi perusahaan-perusahaan Indonesia untuk dapat tercatat di Bursa Efek Indonesia. Dengan tetap mempertahankan kualitas perusahaan yang eligible untuk tercatat di papan utama,” tuturnya.

Bukalapak Rencana IPO pada Agustus Mendatang

Dikutip dari Reuters, Bukalapak berencana IPO dengan perkiraan nilai US$800 juta atau setara Rp11,40 triliun. Rencana IPO ini akan dilaksanakan pada Agustus 2021. Masuknya saham Bukalapak ke lantai BEI diperkirakan akan menjadi yang terbesar di Indonesia dalam 10 tahun terakhir. Dan yang terbesar di sebuah negara oleh startup.

Mengenai rencana IPO ini, pihak Bukalapak belum memberikan pernyataan resmi. BEI sendiri mengatakan ada satu perusahaan e-commerce yang telah mengajukan proses IPO. Namun, BEI tidak memberikan informasi detail terkait identitas e-commerce tersebut.

“Terkait dengan e-commerce dalam pipeline, terdapat e-commerce yang telah menyampaikan dokumen. Untuk nama calon perusahaan tercatat, Bursa belum dapat menyampaikan sampai dengan OJK telah memberikan persetujuan atas penerbitan prospektus awal kepada publik. Sebagaimana diatur di OJK Peraturan Nomor IX.A.2,” jelas Nyoman.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here