Intip Yuk, Gimana Teknologi AI di Ars. app Mudahkan Desain Arsitektur

Ars.app membantu pengguna untuk melihat benda digital seakan di dunia asli. (FOTO: dok. Ars. app)

Teknologi artificial intelligent (AI) sudah diadopsi di pelbagai sektor industri. Tak terkecuali industri kreatif, khususnya arsitektur. Para arsitek dan desainer kini mudah saja mempresentasikan karya dan konsepnya melalui teknologi Augmented Reality (AR) dan Virtual Reality (VR). Keunggulan ini yang diusung Ars. app.

Ars. app lahir untuk memberikan pengalaman baru bagi penggunanya berbagi karya kreatif melalui sebuah platform. Cukup dengan mengunduh gratis aplikasi ini di App Store dan Play Store, praktisi kreatif bisa memamerkan karyanya. Sementara konsumen bisa menikmati karya tersebut secara virtual.

Misalnya, fitur berteknologi AR yang ditawarkan Ars. app bekerjasama dengan Bramble Furniture. Konsumen bisa mengaktifkan Ars. app untuk mengetes apakah produk yang dibeli akan cocok dengan ruangan, tanpa harus melihat produknya secara fisik.

Hal itu bisa dilakukan dengan cara, konsumen cukup memilih produk furnitur pada laman Bramble, lalu menempatkan gambar visual produk tersebut ke lantai atau ruangan. Dengan proses ini, konsumen bisa melihat ketepatan karakter dan ukuran produknya.

“Biasanya, konsumen sudah cocok dengan produknya setelah melihat gambarnya saja, tapi ketika produknya dikirim ke rumah ternyata ukurannya terlalu pendek atau ketinggian. Akhirnya tidak suka. Masalah ini yang ingin kami atasi,” bilang Jonathan Aditya, Co-founder Ars.app.

“Kasus lainnya, konsumen melihat produknya di showroom dan tertarik untuk membelinya, tapi tertarik dengan warna yang berbeda. Tapi, stoknya di pabrik. Konsumen bisa melihat bagaimana tampilan produk dengan warna pilihannya melalui Ars. app,” lanjutnya.

Baca Juga: Jenis Pekerjaan Baru Bermunculan Berkat Artificial Intelligent

Ars. app Menyasar Sektor Bisnis Desain, Arsitektur, dan Lifestyle

Jonathan Aditya, Co-founder Ars.app. (FOTO: Job-Like Magazine/Mega.Fransisca)

Jonathan menciptakan Ars. app bersama sang adik, Johanes Adika. Misinya untuk membantu para praktisi kreatif memasarkan karya-karyanya melalui kekuatan teknologi. Jonathan sendiri adalah lulusan arsitek Universitas Parahyangan, sementara Johanes memiliki latar belakang informasi teknologi.

Atas dasar latar belakang kedua founders-nya, Ars. app resmi diluncurkan pada awal tahun 2019. Tak hanya fokus di sektor arsitektur dan desain, Ars. app juga menyasar pasar lifestyle. Ke depannya, Jonathan berharap Ars. app juga menjadi platform untuk menghasilkan uang bagi para praktisi kreatif.

“Teknologi AR ini bagaimana menghadirkan benda digital seakan-akan di dunia asli. Ini teknologi yang membantu orang kreatif. Goal kami adalah bagaimana mereka mendapatkan uang dari digital kontennya. Tidak hanya sebagai tempat portofolio, tapi juga bisa menghasilkan uang bagi mereka,” tutur Jonathan. 

Dan menurut Jonathan, industri kreatif di Indonesia semakin berkembang dan memberikan peluang emas bagi para pelakunya. Hal ini tak terlepas berkat perkembangan cepat teknologi yang menuntut pelakunya untuk berpikir lebih agile dan kreatif.

“Dulu pekerjaan yang fancy adalah dokter atau lawyer, it’s changing. Pelaku kreatif lebih dibutuhkan, seperti content writer dan desainer. Kini desainer bisa punya portofolio tanpa harus membangun produknya. Sudah ada 3D visualisasi. Jadi walaupun karyanya belum ada, tapi bisa menunjukkan selera atau gaya desainnya ke orang lain,” ujar Jonathan.

Lalu, bagaimana untuk terus melahirkan karya-karya yang menarik dari hasil ide-ide yang segar? 

“Bagaimana terus mendapatkan ide baru? Harus lihat dunia, keluar dari rutinitas. Paling gampang jalan-jalan, tapi bagi beberapa orang mungkin sulit karena faktor keuangan. Sebenarnya dengan melihat kumpulan semut yang membuat rumah, atau membaca berita yang ada di luar negeri, bisa melahirkan ide. Intinya, kamu harus melihat dunia,” tandas Jonathan. 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here