Segera, Traveloka IPO di Bursa Saham Wall Street

Traveloka merencanakan untuk melebarkan sayap bisnis mereka di lantai bursa saham Amerika Serikat pada tahun ini. Rencana penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO) Traveloka di Wall Street akan dilakukan melalui perusahaan akuisisi bertujuan khusus atau special purpose acquisition company (SPAC). 

Melalui sistem SPAC, Traveloka dapat mengumpulkan dana IPO melalui pembelian perusahaan swasta di sebuah negara. Setelah itu, Traveloka akan mengambil alih pencatatan saham di bursa efek asal perusahaan yang diakuisisi. Berkat efisiensi mekanisme inilah Traveloka memilih untuk IPO dengan SAPC seperti yang dipaparkan CEO unicorn penyedia pelayanan pemesanan tiket dan hotel ini, Ferry Unardi.

“SPAC efisien karena jika kami dapat melakukannya lebih cepat, kami dapat fokus pada eksekusi dan mengembangkan perusahaan. Traveloka dapat mempertimbangkan untuk mendaftar di Indonesia pada tahap selanjutnya,” kata Ferry dalam wawancaranya bersama Bloomberg.

Proses IPO secara SPAC memang lebih mudah dibandingkan IPO konvensional yang mahal dan memakan waktu untuk prosesnya. Alhasil, SPAC menjadi solusi yang semakin laris di pasar Amerika Serikat dan Eropa. Skema SPAC diprediksi akan menjadi tren baru di Asia. SPAC sendiri dikenal juga sebagai perusahaan cek kosong yang dibentuk oleh sponsor perorangan atau tim.

Sponsor tersebut memiliki waktu dua tahun untuk mengakuisisi perusahaan yang belum diidentifikasi. Bila melewati tenggat waktu, SPAC akan dibubarkan dan dana dikembalikan ke pemegang saham. Sebaliknya, bila sponsor menemukan perusahaan untuk merger, mereka akan menawarkan persyaratan akuisisi.

Dalam proses Traveloka IPO di Wall Street, firma sekuritas JPMorgan Chase & Co dipilih untuk prosesnya. Namun belum dibeberkan secara spesifik apakah saham Traveloka akan tercatat di New York Stock Exchange (NYSE) atau Nasdaq. Setelah IPO di Wall Street, Traveloka tidak menutup kemungkinan untuk masuk ke bursa saham Indonesia. 

Baca Juga: Yuk, Jaga Rumah Saat Mudik dengan Asuransi Rumah dari Traveloka

Kondisi bisnis Traveloka sempat terguncang akibat pandemi COVID-19 yang merusak pasar bisnis pariwisata. Imbasnya, manajemen Traveloka harus memutus hubungan kerja (PHK) 100 karyawan atau 10 persen dari total karyawan pada pertengahan tahun 2020 lalu. Dampak pandemi juga mendorong Traveloka untuk menciptakan servis tambahan di luar penyediaan tiket dan akomodasi.

Bisnis Traveloka mulai pulih setelah pemerintah melakukan pelonggaran perjalanan, meski menurut Ferry nilainya masih terbilang rendah. Ke depannya, Traveloka akan fokus berinvestasi pada fitur pay later yang dinilai lebih menarik konsumen. 

Menurut hasil riset CB Insights, Traveloka memiliki valuasi senilai US$3 miliar pada tahun 2017. Traveloka pun telah berperan aktif sebagai investor bagi beberapa perusahaan, seperti GIC Pte Singapura, Expedia Group Inc, Rocket Internet, dan JD.com. Operasional bisnis Traveloka sendiri tidak hanya dilakukan di Indonesia, tetapi telah berekspansi ke negara Asia Tenggara lainnya, seperti Singapura, Malaysia, Thailand, dan Filipina. 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here