Meski Sering Terkena Bencana, Ini Alasan Warga Jepang Tak Melakukan Penjarahan

penjarahan

Bencana alam belakangan ini memang kerap terjadi di wilayah Indonesia. Kondisi kekacauan yang terjadi akibat gempa Lombok belum sepenuhnya pulih akan tetapi sudah terjadi lagi gempa dan disusul tsunami yang meluluhlantakan kota Palu dan Donggala. Pemerintah dibantu seluruh elemen masyarakat pun berbondong-bondong datang ke tempat yang terkena bencana untuk melakukan evakuasi dan memberikan beragam bala bantuan seperti makanan, obat-obatan, dan pakaian.

Baca Juga: Rentetan Kisah Tragis yang Terjadi Akibat Gempa dan Tsunami di Palu

Namun, dalam berita mengenai korban bencana yang belakang terdengar, terdapat kabar yang cukup membuat malu. Beberapa orang di Palu dan Donggala dikabarkan telah melakukan penjarahan besar-besaran. Menurut Wakapolri Komjen Ari Dono Sukmanto, atas alasan apapun aksi penjarahan itu tidak diperbolehkan secara hukum alias masuk kategori kejahatan, sehingga polisi wajib menindaknya. Ia juga menambahkan,

“Ada peristiwa seperti kalau ambil makanan kita masih toleran lah, tapi kalau ambil laptop baru, pakaian juga mungkin karena pakaian mereka enggak ada, tapi kalau hal lain ambil uang kita lakukan penegakan hukum,” terangnya.

Sumber: bbci.co.uk

Mengapa Harus Belajar dari Orang Jepang?

Kita memang tidak tahu bagaimana rasanya terkena bencana yang dalam sekejap menghancurkan tempat tinggal, namun sebetulnya kita wajib belajar kepada orang Jepang bagaimana seharusnya kita bersikap meski bencana melanda. Tsunami yang menerjang Jepang pada tahun 2011 hingga menyebabkan kebocoran nuklir di Fukushima adalah salah satu bencana terburuk dalam sejarah Jepang. Meski begitu, namun kita tidak mendengar kabar bahwa masyakarat Jepang melakukan penjarahan terhadap toko-toko di sana. Seorang kolumnis untuk The Phillipine Star pun mengungkapkan bahwa masyarakat Jepang tetap menerapkan kedisiplinan mereka meski bencana melanda.

Sumber: abcnews.com

Orang Jepang dikenal sangat jujur ​​dan disiplin. Mereka adalah masyarakat kolektif sehingga akan lebih menghargai kepentingan kelompok ketimbang individu. Akibatnya tentu mereka tidak akan mencuri apapun setelah bencana alam paling dahsyat menerjang. Bahkan jika mereka putus asa mencari makanan, orang Jepang akan tetap mengantre untuk membeli makanan.

Mark D. West, seorang profesor di Sekolah Hukum Universitas Michigan mengatakan bahwa penjarahan tidak dilakukan masyarakat Jepang adalah karena hal tersebut tidak termasuk dalam budaya mereka. Hal tersebut dalam tercipta karena mereka memiliki aspek struktural yang kuat seperti sistem hukum yang kuat sehingga selalu mengutamakan kejujuran, kehadiran polisi di tengah-tengah masyarakat yang mengayomi dan menjaga ketertiban, serta keterlibatan kelompok masyarakat.

Baca Juga: Inovasi Rumah Anti Gempa dari Jepang, Levitating House

Untuk dapat menerpakan hal ini di negara kita memang tidaklah mudah, karena mental anti-penjarahan tersebut tercipta berkat tempaan dari banyak faktor. Kita semua harus mengedapankan kejujuran dibanding apapun, selain itu pemerintah pun harus bersinergi dengan masyarakat untuk mencegah penjarahan terjadi. Sebab jika hal ini dibiarkan, maka akan menimbulkan kerugian yang besar dan mempermalukan nama bangsa di mata dunia internasional.

Beri komentar Anda tentang artikel ini