Rekrutmen Semu (RESE): Oportunisme Industrial dan Sistem Rekrutmen

Pernahkah kita mengalami seolah-olah akan direkrut oleh suatu perusahaan, namun terlebih dahulu harus memenuhi salah satu persyaratan terberat mereka, yaitu membuat konsep atau rancangan kerja yang analitis dan strategis untuk beberapa bulan atau beberapa tahun ke depan?

Di satu sisi, kita semua tahu bahwa hal-hal seperti ini absurd karena tidak adanya jaminan bahwa kita pasti akan direkrut, betapa pun bagusnya hasil pemikiran strategis yang telah kita buat.

Di sisi lain, hati ini biasanya penasaran, mana tahu dengan melakukan ini, kita memang benar-benar jadi direkrut.

Sejumlah orang menyebut “permainan licik” ini sebagai War Game, yang didefinisikan sebagai upaya-upaya pragmatis yang dilakukan oleh kalangan industri atau oknum rekruter yang memang bertujuan hanya untuk mendapatkan informasi berharga tentang sesuatu yang strategis, secara gratis atau berbiaya rendah.

Saya pribadi menyebutnya sebagai RESE, alias singkatan dari Rekrutmen Semu. Sebuah perusahaan melalui rekruternya bisa saja menyelenggarakan sebuah proses Rekrutmen Semu untuk suatu posisi, misalnya Marketing Manager. Aslinya, perusahaan itu sebenarnya masih memiliki Marketing Manager aktif, dan tidak ada rencana untuk resign sama sekali.

Proses RESE itu dilakukan untuk menjaring sejumlah informasi atau hal-hal strategis dari kompetitor antar-industri maupun lintas-industri, dengan biaya serendah mungkin, sehingga perusahaan tidak perlu mengeluarkan biaya besar untuk membayar, misalnya Marketing Researcher/Consultant. Mereka sudah bisa dapatkan itu dari para kandidat Marketing Manager yang mengikuti proses RESE tersebut.

Umumnya, perusahaan meminta sejumlah hal, misalnya pandangan tentang kondisi tertentu secara makro maupun secara mikro, atau rencana kerja strategis selama satu tahun ke depan andai kondisinya tertentu (ditentukan oleh perusahaan), atau mungkin rencana taktis tertentu jika menghadapi suatu kondisi genting (yang digambarkan sebelumnya oleh perusahaan). 

Prinsipnya, perusahaan dapat meminta hal apa pun pada kandidat, tentunya dengan iming-iming pada kandidat akan diperlakukan sekelas VIP (misalnya: transport ditanggung, dan diberi makan siang mewah di hotel); sambil dibangun narasi bahwa jika mereka bersedia lakukan itu, lebih besar kemungkinan untuk diterima.

Hasil akhirnya biasanya bisa ditebak: kandidat hanya akan menerima ucapan terima kasih atau maaf saja, atau malah sekedar janji kosong belaka.

Sementara mereka sudah memeras otak sedemikian rupa untuk membuat suatu dokumen perencanaan strategis yang selayaknya mereka lakukan hanya jika sudah pasti duduk di kursi jabatan yang dijanjikan tersebut.

Yang lebih parah lagi, jika sang kandidat sudah kebelet ingin pindah ke lain ladang, bisa saja dia bersedia membocorkan rahasia perusahaan tempat kerjanya selama ini, hanya karena termakan rayuan perusahaan kompetitor.

Baca Juga:Susah Mendapatkan Pekerjaan? Cek Dulu Posisi yang Dilamar

Bayangkan, sudah susah-susah menggadaikan etika dan kredibilitas pribadi, namun ternyata sang kandidat hanya terjebak permainan Rekrutmen Semu dari perusahaan yang licik dan pelit.

Saya pribadi pernah hampir menjadi korban dari RESE ini. Ketika itu saya dijanjikan posisi sebagai Training Manager di sebuah distributor kendaraan bermotor di luar kota, dengan janji angka gaji yang menggiurkan.

Kemudian, rekruternya meminta saya untuk membuat perencanaan training secara mendetail selama satu tahun, termasuk meminta daftar kurikulum pelatihan, metodologi, referensi, dan sejumlah detail lainnya.

Wahhh, saya langsung mencium bau bangkai nih…

Tapi, di sisi lain, saat itu saya memang sedang dalam posisi mencari pekerjaan. Jadi di benak saya berkecamuk pertanyaan “bagaimana jika” terus-menerus. Bagaimana jika saya turuti mereka dan tenyata ini hanya RESE? Bagaimana jika tidak saya turuti mereka dan ternyata saya batal mendapatkan pekerjaan di situ?

Akhirnya saya terpikir untuk mengambil jalan tengah saja. Jadinya saya buatkan perencanaan training selama tiga bulan saja, beserta garis besar kurikulum jangka pendek, materi, dan metodenya.

Saya jelaskan pada rekruter bahwa untuk membuat perencanaan training selama satu tahun yang efektif dan berdampak, tentunya harus melakukan mapping permasalahan di perusahaan tersebut dan menyusun Training Need Analysis (TNA) secara komprehensif, setelah saya benar-benar jadi karyawan di situ.

Sebagai tambahan, jika mereka ingin melihat bagaimana nuansa training yang saya adakan, saya kirimkan pada mereka sejumlah video ketika saya melakukan training, sehingga mereka tidak terlalu blank dengan performa saya sebagai trainer.

Setelah saya menyerahkan semua data itu, hasilnya sudah bisa ditebak: rekruternya raib tanpa kabar. Entah karena mereka benar-benar telah mendapatkan kandidat lain yang bersedia 100 persen menyerahkan rencana strategis pelatihan itu, atau entah karena mereka tengah menjalankan strategi RESE.

Jika mereka tengah menjalankan RESE, maka langkah saya tersebut saya pandang sudah tepat, dan saya anjurkan juga untuk dijalankan para kandidat lainnya.

Jika ada permintaan “aneh-aneh” dari rekruter yang berbau RESE, sementara kita agak berkeberatan untuk memenuhi semua porsi permintaannya, cukup katakan saja dengan diplomatis, apakah mungkin jika kita menyerahkan materinya dalam kurun waktu yang terbatas saja, seperti pada kasus saya di atas?

Jelaskan pada mereka, bahwa insight yang 100 persen total baru dapat diberikan atau baru akan terbangun dengan akurat dan kontekstual; hanya jika kita telah direkrut terlebih dahulu dan telah berada di dalam sistem perusahaan tersebut.

Percayalah, bahwa Tuhan dan alam ini telah lama bekerja dengan logika dan metodologinya sendiri, yang terkadang tidak kita pahami. Setelah kita mengusahakan apa pun yang terbaik untuk mendapatkan sebuah pekerjaan, marilah kita lebih berserah pada kuasa Tuhan atas hidup kita. Tidak perlu berekspektasi atau kecewa berlebihan akan apa pun yang akhirnya terjadi pada proses rekrutmen.

Jika pekerjaan itu memang telah ditakdirkan untuk kita, dengan proses yang tidak mulus pun, pekerjaan itu akan tetap menjadi milik kita. Sebaliknya, jika pekerjaan itu memang tidak pernah ditakdirkan untuk kita, semulus apa pun proses rekrutmennya kita jalani, kita tidak akan pernah mendapatkan pekerjaan itu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here