Women Leading Change Indonesia: Peran Perempuan dalam Perubahan

Women Leading Change Indonesia
Women Leading Change Indonesia

Peran perempuan sangatlah besar dalam berbagai aspek kehidupan. Dimulai dengan merawat benih jabang bayi dari embrio hingga melewati 1.000 hari pertama, sampai mengantarnya menjadi seseorang yang bisa membawa perubahan untuk masyarakat dan lingkungan di sekitarnya. Baru-baru ini, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional bersama Badan Pusat Statistik dan United Nation Population Fund merilis data kependudukan tahun 2018. Saat ini, penduduk Indonesia mencapai 265 juta jiwa, dan 131,88 juta diantaranya adalah perempuan.

Namun, mengacu pada hasial kajian dalam buku Pembangunan Manusia Berbasis Gender 2017 (diterbitkan oleh BPS bersama Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak), Indeks Pembangunan Manusia (IPM) bagi perempuan di Indonesia masih cenderung lebih rendah dibandingkan dengan laki-laki. IPM laki-laki sudah masuk ke dalam kategori “tinggi” dengan nilai di atas 70, sedangkan perempuan masih pada level “sedang” dengan angka 60 dalam 7 tahun terakhir. Untuk diketahui, IPM dibentuk oleh 3 dimensi yaitu umur panjang dan hidup sehat, pengetahuan, dan standar hidup layak.

Kenapa perempuan harus berdaya? Karena perempuan adalah fighter!

Ayla Dewi Aldjufrie terusik dengan tatanan masyarakat yang masih menempatkan perempuan sebagai kalangan kelas dua. Memang, budaya patriarki di Indonesia masih sangat kental bahkan di era modern saat ini. Di berbagai bidang karier dan sektor industri, laki-laki masih menjadi prioritas. Padahal, jumlah lulusan S1 perempuan lebih banyak 0,23% dibandingkan dengan laki-laki dan 46% perempuan di Indonesia berhasil menjadi pemimpin baik di sektor perusahaan maupun bisnis.

Baca Juga: Mutia Sari Syamsul: Cara CEO Bantu Berdayakan Pekerja Perempuan

Inilah yang menurut Ayla harus terus diberdayakan dan ditingkatkan, agar kaum hawa bisa hidup lebih sejahtera dan mandiri. Yang terpenting bisa membawa perubahan bagi keluarga, masyarakat, dan lingkungan. Untuk mencapai cita-cita tersebut, Ayla bersama keenam rekannya dari berbagai sektor bisnis menggagas Women Leading Change Indonesia pada Desember 2018 ini. Women Leading Change Indonesia memiliki social responsibility dengan merangkul change makers perempuan di Indonesia, terutama yang berada di rural area.

“Kami akan fokus untuk membantu perempuan-perempuan di Indonesia mendapatkan akses pendidikan, kesehatan, peningkatan ekonomi, teknologi, properti, dan budaya. Karena kami melihat banyak sekali potensi yang bisa dilakukan para perempuan di Indonesia, jika mereka bisa mendapatkan akses yang tepat juga kesempatan,” ujar Ayla saat konferensi pers kemarin (3/12).

Sebagai awalan, Women Leading Change Indonesia akan mengadakan Women Leaders International Networking sekaligus World Women Leading Change Indonesia Gala Dinner pada Rabu, 5 Desember 2018 di Nusa Dua-Bali. Event tersebut tak hanya menjadi ajang berkumpul bagi para change makers perempuan namun juga pemberian penghargaan kepada pemimpin perempuan yang menjadi inspirasi bagi perempuan lainnya. Penghargaan ini akan dihadiri oleh peserta dari berbagai negara yaitu Singapura, Malaysia, Vietnam, Senegal, Filipina, India, Itali, Ukraina, Rusia, dan Amerika Serikat.

“Pemberdayaan perempuan adalah salah satu cara untuk menggerakan perputaran roda ekonomi secara cepat, selain memberikan dampak positif bagi sosial dan politik secara keseluruhan. Perempuan memiliki banyak bakat alami yang dapat digunakan untuk membuat perubahan di sekitarnya,” tutur Ellen Aragay, Public Relation Women Leading Change. 

Kenal lebih dekat dengan Rhesma Wijaya, salah satu pemenang Women Leading Change Indonesia Award

Women Leading Change Indonesia
Founder Saraswati Learning Center

Rhesma Wijaya Bhojwani merupakan salah satu pemenang yang akan menerima penghargaan Women Leading Change Indonesia besok di Bali. Perempuan keturunan India ini mendirikan Saraswati Learning Center pada tahun 2016. Berawal dari memiliki anak yang mengidap down syndrome, Rhesma tergerak untuk mendirikan sebuah tempat pendidikan khusus bagi anak-anak berkebutuhan khusus.

Saraswati Learning Center kini membina 90 anak berkebutuhan khusus beserta dengan para orang tuanya, agar bisa memiliki kepribadan yang lebih baik. Mereka mempelajari berbagai jenis keahlian (life skill) dan soft skill, agar tak lagi mendapat cibiran atau tindakan diskriminatif dari lingkungan sekitar.

“Misi saya ingin menghadirkan kehidupan yang lebih baik bagi mereka. Kami juga mengajak partisipasi orang tua, agar orang tua mengerti apa saja yang sebenarnya anak-anak mereka butuhkan. Untuk meningkatkan kepercayaan diri, kami membimbing mereka untuk belajar keahlian tertentu misalnya membuat gelang, melukis, dan membuat cokelat. Ketika melihat hasil kerajinan tangan mereka diapresiasi, inilah yang bisa membuat mereka bangkit dan percaya diri,” ujar Rhesma.

Baginya penghargaan yang akan ia terima menjadi pemacu semangatnya untuk lebih banyak menolong orang, terutama dalam memberdayakan anak-anak berkebutuhan khusus.

“Saya rasa perlu ada lembaga semacam ini untuk memotivasi perempuan-perempuan lainnya bahwa mereka mampu untuk membuat perubahan bagi sekitarnya. Perempuan memiliki peran yang penting dalam mendukung kesejahteraan, baik bagi sesama perempuan maupun bagi lingkungan yang lebih luas,” lanjutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here