Work Abroad: Jangan Terkejut dengan Tingginya PPh di Malaysia

Kekompakan tim Teledirect Telecommerce dari beragam negara di Asia. (dok. Farah Dhiba Putri Liany)

“Farah, gimana enak nggak bekerja di luar negeri?”

“Far, kamu betah di sana? Kantor kamu seperti apa?”

“Aduh, kamu sudah dapat tempat tinggal belum di sana?”

Kira-kira seperti itu pertanyaan yang dilempar kepada saya di awal kepindahan saya ke Kuala Lumpur, Malaysia, untuk meniti karier baru. Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan saya jawab melalui cerita pengalaman saya di edisi Work Abroad kali ini.

Tapi, sebelumnya, izinkan saya memperkenalkan diri. Nama saya Farah Dhiba Putri Liany. Kuala Lumpur menjadi kota di luar Indonesia pertama yang saya jajaki untuk bekerja. Saya bekerja untuk perusahaan Teledirect Telecommerce – BPO (Business Process Outsoucing) untuk salah satu perusahaan teknologi ternama di dunia.

Tugas saya adalah melakukan riset untuk produk yang tengah dan akan dipasarkan oleh klien dari pasar Indonesia. Trus, bagaimana ceritanya saya bisa bergabung dengan perusahaan di Kuala Lumpur ini?

Ketika saya masih bekerja untuk startup game di Jakarta, sebagai Digital Marketing dan Content Writer, saya dihubungi rekruter Teledirect. Lalu, saya menjalani wawancara via telepon dengan perwakilan Human Resource (HR). Proses berikutnya wawancara dengan user, terakhir dengan klien dari Amerika Serikat yang proyeknya akan saya tangani.

Proses rekrutmen cukup cepat, hanya dua minggu. Saya iyakan tawaran kerja ini meski saya baru bekerja sembilan bulan di perusahaan sebelumnya. Tentu, ini kesempatan emas yang tidak bisa saya lepas begitu saja. Saya yakin banget akan belajar banyak hal, baik untuk karier maupun personal.

Dok. Farah Dhiba Putri Liany

Dan, benar. Di perusahaan ini saya belajar disiplin dan fokus. Bayangkan, saya tidak bisa membawa handphone ke ruang kerja! No personal things are allowed. Tujuan utama peraturan ini, sih, untuk menjaga keamanan informasi perusahaan. Keuntungan lainnya, tidak ada distraksi kerja.

Namun, untuk jabatan dan level tertentu diizinkan untuk membawa handphone. Sekarang saya sudah diperbolehkan membawa handphone setelah mendapatkan “device pass”, yakni kartu izin untuk akses handphone yang sudah terdaftar.

Sebelum memiliki device pass, saya harus menyimpan handphone dan barang pribadi (tas, laptop) di loker kantor. Area kerja dipastikan steril dan perusahaan telah menyediakan laptop yang diprogram untuk setiap penggunanya. Awalnya, sulit banget. Pas di Indonesia kan bisa kerja sambil chatting atau cek sosial media. Haha.

Tapi, ada juga kok peraturan yang menguntungkan karyawan. Misalnya, tidak ada penerapan jam lembur. Karyawan dianjurkan untuk “teng-go”. Karyawan yang lagi cuti atau sakit juga tidak akan diganggu dengan pekerjaan.

Keseruan work abroad di sini juga karena rekan-rekan kerja saya berasal dari bermacam negara. Mereka mewakili pasar bisnis dari negaranya masing-masing. Ada yang bertugas di pasar Vietnam, Thailand, Taiwan, dan lainnya.

“Wow, pajak penghasilan di Malaysia untuk pekerja asing ternyata sebesar 28 persen dari gaji!”

Kantor pajak di Kuala Lumpur, Malaysia. (dok. Farah

Di awal kedatangan, saya sempat kaget mendengar peraturan pajak penghasilan (PPh). Pekerja asing harus membayar sebesar 28 persen dari gaji. Tinggi banget! Apalagi peraturan ini berlaku untuk gaji enam bulan pertama.

Tapi, setelah mendapatkan informasi lebih detail, saya lega. Pemerintah akan mengembalikan nilai potongan PPh tersebut usai melaporkan pajak (seperti pelaporan SPT Tahunan di Indonesia) setiap Maret di Lembaga Hasil Dalam Negeri (kantor pajak). Itu pun dengan syarat saya tidak boleh meninggalkan Malaysia dengan kumulatif lebih dari 14 hari dalam kurun 182 hari pertama.

Meski uang akan dikembalikan, saya sempat kelimpungan mengatur keuangan selama enam bulan. Perusahaan saya sendiri hanya memberikan tempat tinggal selama sebulan pertama. Setelah itu saya harus mencari tempat tinggal sendiri.

Nah, proses mencari kos-kosan dan prosedurnya juga lebih ribet ketimbang di Indonesia. Di Indonesia sih gampang saja, kamu cukup mendatangi lokasi, bertemu sang pemilik, lalu bayar biaya sewa, dan resmi deh jadi penghuni. Di Malaysia?

Mencari kos-kosan harus melalui situs online. Bila tertarik dengan salah satu kamar maka kamu harus menghubungi contact person yang tertera untuk atur waktu survei tempat. Survei ini penting lho karena kadang foto akomodasi yang dicantumkan tidak seperti kenyataannya. Jangan sampai nyesel!

Prosedur berikutnya pun mungkin asing di Indonesia: deposit dan tenancy agreement. Rata-rata pemilik kos menentukan deposit sebesar 2-3 bulan biaya sewa dengan durasi kontrak antara enam bulan hingga setahun. Deposit ini fungsinya sebagai uang jaminan dan akan dikembalikan seusai kontrak berakhir. Untuk tenancy agreement juga ada biaya lho.

Lalu, Apa Saja Dokumen Pelengkap bagi Pekerja Asing di Malaysia?

Setiap perusahaan mungkin memiliki regulasi berbeda terkait visa yang harus dimiliki karyawannya di awal kedatangan mereka. Saya diminta perusahaan untuk mengurus Single Entry Visa bagi Employment Pass yang berlaku untuk tiga bulan. Setelah tiba di Kuala Lumpur, perusahaan akan mengurus perpanjangan visa saya.

Pengurusan visa tidak lagi dilakukan di Kedutaan Besar Malaysia, tetapi di one stop centre yang terletak di Menara Palma, Jakarta. Sejak 2015, pemerintah Malaysia menunjuk perusahaan swasta sebagai perwakilan dalam pengurusan visa. Karena adanya pihak ketiga, harga visa jadi lebih mahal, sekitar Rp 800 hingga Rp 900 ribu. Padahal harga yang tertera di visa hanya Rp 52 ribu.

Baca Juga: Work Abroad: Pengalaman Seru Anggita Berburu Pekerjaan di Jepang

Untuk lebih ringkasnya, saya jabarkan prosedurnya seperti ini:

  • Bawa VAL (Visa Approval Letter) yang dikeluarkan oleh MDEC (Malaysia Digital Economy Corporation) yang dikirim oleh perusahaan tempat kamu bekerja
  • Lengkapi dengan dokumen berikut ini, passport asli, fotokopi pasport, pas foto 4×6 dengan latar belakang berwarna biru, form visa yang telah diisi  
  • Petugas akan memeriksa kelengkapan dokumen
  • Lakukan pembayaran biaya pengurusan visa (cash atau debit)
  • Petugas akan memberikan receipt dan bukti untuk mengambilan paspor (estimasi pengurusan 2-3 hari kerja)

Setelah Single Entry Visa keluar, saya laporkan ke pihak HR agar mereka memproses tiket pesawat dan tempat tinggal saya. Setibanya di Kuala Lumpur, saya serahkan pasport ke HR untuk proses pembuatan Multiple Entry Visa sehingga saya mengantongi izin untuk keluar masuk Malaysia. Untuk Multiple Entry Visa ini semua proses dan biaya ditangggung perusahaan.

Multiple Entry Visa berlaku untuk setahun. Jadi, saya harus mengingatkan HR untuk memperpanjang visa setidaknya 2-3 bulan sebelum masa tenggat habis. Oh iya, kalau kamu resign atau pindah perusahaan di Malaysia, kamu harus melaporkan diri ke imigrasi untuk mengubah status di Employment Pass. Karena informasi yang tercantum di Employment Pass adalah jabatan kamu, nama perusahaan, dan alamat perusahaan saat ini. Jangan sampai lupa ya!

Semoga pengalaman working abroad saya ini membantu kalian yang berencana membangun karier di Malaysia. Semoga berhasil!

2 COMMENTS

  1. Hi Farah,
    thank you udah sharing pengalamannya. Kenalin nama aku Shelly, skarang lg proses untuk kerja di Cognizant Malaysia, BPO juga, familiar sama perusahaan ini gak? 🙂
    If you don’t mind me asking, apa ini hal yg normal kalo perusahaan udah minta data untuk pembuatan Visa sebelum ngasih tahu salary and benefits detail dari perusahaannya?
    Mungkin kamu punya pengalaman yg bisa di share soal ini, hehe
    Thank you

    • Hai Shelly, semoga balasannya ga telat. Tergantung sih ya. Cuma baiknya kamu confirm dulu ke company nya untuk benefit, salary dsb sebelum kamu kasih personal data kamu. Mungkin mereka kira kamu sudah oke, karena biasanya di awal mereka akan infokan range salary dan benefit. Tapi kalau memang belum, ya hak kita kok untuk menanyakan sebelum share data-data pribadi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here