Karier atau Keluarga? Working Mom di Generali Indonesia Bisa Keduanya

Yuliana Tjong, Partnership Distribution Group Head Generali Indonesia. (FOTO: Job-Like Magazine/Mega.Fransisca)

Pilihan antara bekerja atau menjadi ibu rumah tangga memang momok yang menghantui banyak perempuan karier dewasa ini. Haruskah perempuan menanggalkan karier dan mimpinya demi keluarga? Atau mampukah ia mengemban dua tugas sebagai working mom? Dilema working mom ini menjadi perhatian khusus Generali Indonesia dengan memberikan kesempatan setara bagi perempuan karier yang berkeluarga.

Tercatat, 45 persen dari total karyawan perusahaan asuransi asal Italia ini adalah perempuan. Bahkan beberapa posisi manajemen pun diduduki oleh karyawan perempuan. Tak hanya itu, dukungan Generali Indonesia untuk perjalanan karier working mom juga diberikan melalui sharing knowledge mengenai parenting bersama para karyawannya.

Menurut Edy Tuhirman, CEO Generali Indonesia, sharing knowledge untuk pengasuhan anak menjadi hal penting mengingat beratnya perjuangan seorang working mom yang harus menjaga keseimbangan antara bekerja dan keluarga. Di matanya, working mom adalah sosok pahlawan di dunia kerja. Untuk menjalankan dua peran dengan lebih baik, Edy menegaskan working mom harus pintar berbagi waktu dan peran dengan sang suami.

Strategi serupa untuk menjadi working mom yang baik juga dipaparkan Yuliana Tjong, Partnership Distribution Group Head Generali Indonesia. Ia menegaskan seorang ibu bekerja harus pintar-pintar membagi peran dan waktunya dalam bekerja dan mengurus anak. Terutama dengan adanya ancaman kecanduan gawai pada anak di era digitalisasi ini.

Baca Juga: Incar Pekerja Milenial, Proses Rekrutmen Generali Indonesia Banjir Benefit

Di era digital ini tak dipungkiri pentingnya perkenalan akan teknologi kepada anak sejak usia dini. Pasalnya, penggunaan teknologi dibutuhkan hampir di seluruh sektor kehidupan sekarang ini. Namun, orangtua harus memahami batasan penggunaan gawai pada anak-anak agar tidak berimbas pada kecanduan.

Pemahaman mengenai pembatasan akan penggunaan gawai harus dimiliki terutama oleh working mom yang tidak bisa mendedikasikan seluruh waktunya untuk sang anak. Yuliana mengatakan kecanduan gawai pada anak-anak saat ini bisa dibilang sebagai pandemik. Untuk itu sebagai working mom, Yuliana menerapkan beberapa aturan tegas mengenai penggunaan gawai oleh anak-anaknya.

“Kecanduan gadget bisa mengantar kepada hal-hal yang buruk, seperti delay speaking dan punya behaviour yang berbeda. Tapi, bukan berarti digital buruk. Anak-anak juga harus diperkenalkan dengan digital agar tidak gaptek. Kita harus optimalkan agar anak-anak smart dalam digital namun tidak kecanduan,” ujar Yuliana.

“Sebagai orangtua, kita bisa assist mereka, jadikan digital alat untuk meningkatkan engagement dengan anak sehingga kualitas anak dengan orangtua bisa bertumbuh dan produktif. Saya gunakan digital untuk bermain bersama anak-anak, dapatkan quality time, bataskan waktunya hanya sejam saja. Banyak ibu-ibu yang merasa berdosa karena kurang spend time dengan anak-anaknya. Menurut saya yang penting ada kualitasnya, bukan kuantitasnya,” jelasnya.

Orangtua Harus Menerapkan Aturan Screen Time dan Screen Zone Penggunaan Gawai bagi Anak

Generali Indonesia menjamin karyawan working mom mampu memproteksi karier dan keluarga secara bersamaan. (FOTO: Job-Like Magazine/Mega.Fransisca)

Pentingnya penerapan aturan dalam penggunaan gawai diamini Nurlaksmi Handayani, M. Psi., Psikolog RS Brawijaya Depok, yang hadir memberikan tips mendidik anak menjadi generasi cerdas digital kepada para working mom Generali Indonesia. Pasalnya, menurut studi aktivitas bermain game dengan durasi tiga jam atau lebih setiap harinya bisa mengarah kepada sikap kecanduan. 

Nurlaksmi menjelaskan adanya jalur di otak yang terpicu secara langsung dan intens yang kemudian mendorong respon neurologis berbentuk perasaan senang ketika seseorang bermain game. Perasaan senang yang dirasakan ini akan membentuk perilaku kecanduan. Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), kecanduan bermain game online dikategorikan sebagai bentuk gangguan kesehatan jiwa.

Hal ini tidak terlepas karena kecanduan game atau media sosial bisa melahirkan masalah lanjutan terkait kognisi, fisik, emosi, interpersonal, dan psikologis. Bila kondisi ini berlangsung dalam jangka panjang, maka seseorang akan mengalami stres, kecemasan dan depresi. Masalah penurunan prestasi akademik dan interaksi sosial nyata juga siap menyerang anak-anak.

Baca Juga: Ini 3 Skill Penting bagi Karyawan Fresh Graduate di Generali Indonesia

Nah, bagaimana orangtua, terutama working mom, memberikan perannya dalam pertumbuhan anak dalam era digital? Seperti metode yang diterapkan Yuliana dengan memberikan batasan waktu untuk menggunakan gawai, Nurlaksmi menegaskan pentingnya peraturan screen time dan screen area.

Screen time mengacu kepada pembatasan penggunaan gawai bagi anak-anak. Ia mengingatkan para working mom untuk tidak membiarkan bayi berusia kurang dari 18 bulan terpapar dengan internet. Sementara itu, bayi antara 18-24 bulan sebaiknya hanya disajikan tontonan yang berkualitas. Ketika anak berusia 2-5 tahun, bataskan tontonan maksimal 1 jam per hari.

“Sajikan program yang berkualitas tinggi dan didampingi orangtua. Pendampingan ini tidak sekadar orangtua duduk di sebelahnya, tetapi orangtua harus memberikan penjelasan kepada anak. Dan ulang kontennya dalam pengalaman nyata. Untuk balita, hindari program yang serba cepat, konten distraktif, dan konten kekerasan,” jelas Nurlaksmi. 

“Terapkan kepada anak bahwa penggunaan gawai adalah hak istimewa, bukan hak sehari-hari. Mereka harus paham gawai tersebut miliki orangtua, dan mereka hanya meminjamnya. Terapkan juga screen-free area atau zona bebas gawai, misalnya di kamar tidur. Dan screen-free time ketika makan, 1 jam menjelang tidur, dan waktu bermain dengan orangtua. Pastikan ada konsekuensinya apabila anak melanggar aturan tersebut.”

Pemahaman mengenai pengasuhan anak yang lebih baik di era digital seperti ini membantu working mom di Generali Indonesia untuk lebih fokus membagi dua perannya, sebagai ibu dan pekerja. Sehingga mimpinya untuk menggapai kesuksesan karier dan membangun keluarga yang sehat dan bahagia dapat berjalan seiringan.

Mau bekerja di Generali Indonesia?

Apply Now!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here